Malu : Suatu Kajian Akhlak Ringkas

Oleh: Sayyid Abdul-Husain Dasytaghib

Tatanan hidup manusia di alam ini, dan kebahagiaannya yang abadi di alam akhirat kelak sangat tergantung kepada rasa malu yang ada pada dirinya. Oleh karena itu, adalah pada tempatnya bila pada kesempatan ini kami menghadirkan kajian mengenai hakikat rasa malu, pentingnya punya rasa malu, sumber rasa malu – khususnya rasa malu yang kini mulai terkikis habis dari anggota masyarakat di zaman ini, terutama pada kaum wanita. Padahal Allah Swt Yang Mahabijaksana menciptakan rasa malu pada perempuan berlipat-lipat lebih besar ketimbang rasa malu yang dimiliki oleh laki-laki ….** Akan tetapi, amat disayangkan bahwa saat ini rasa malu itu banyak dimiliki oleh kaum laki-laki ketimbang perempuan.

Oleh karena itulah, kejahatan dari hari ke hari semakin bertambah banyak. Seakan-akan kami di zaman ini, menjadi bukti kebenaran atas apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Saww : “Kiamat tidak akan terjadi sampai rasa malu telah lenyap dari anak-anak dan perempuan.” (Bihar Al-Anwar, cetakan baru, jilid VI, hal.315).
Imam Al-Baqir as mengatakan, “Rasa malu dan iman adalah dua hal yang dihubungkan oleh suatu poros. Jika salah satu di antaranya hilang, maka yang lain akan mengikutinya.”
Sedangkan Imam Ja’far Ash-Shadiq as mengatakan, “Tidak beriman orang yang tidak memiliki rasa malu.”

Apakah Rasa Malu Itu ?

Rasa malu (al-haya’) ialah suatu sifat yang alami dalam diri manusia, yang menjadikannya merasa tidak enak ketika dia melakukan perbuatan jelek dan haram. Dia dapat mencegah dirinya untuk tidak melakukan perbuatan terlarang, karena adanya perasaan yang alami dan fitriah itu.
Sayyid Jamaluddin Al-Asadabadi dalam bukunya, Al-Radd ‘ala al-Madiyyin, mengatakan : “Dengan kata yang mulia itu [rasa malu] hak-hak manusia terfhormati, dan mereka tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan.”
Begitu pula dengan rasa malu, seseorang memelihara hak ayah, ibu, anak, guru, dan setiap orang yang berbuat baik kepadanya. Dia tidak berkhianat, mengingkari janji, atau menolak orang yang meminta pertolongan kepadanya. Dengan perasaan malu pula seseorang tidak akan melakukan perbuatan keji dan perbuatan yang tidak sesuai dengan dirinya.
Sungguh rasa malu dapat dijadikan tindakan pencegahan terhadap segala macam kerusakan. Ia lebih bermanfaat ketimbang ratusan peraturan dan penjaga. Sesungguhnya orang-orang yang mencintai kebaikan masyarakat, menginginkan hilangnya keonaran, harus berupaya agar sifat rasa malu ini tidak lepas dari anggota masyarakat mereka. Bahkan mereka harus menghidupkan dan menumbuhkannya. Tugas utama dan mulia ini tertumpu pada pundak para bapak dan ibu, guru, dan juga semua kaum Muslimin.

Cara Melestarikan Rasa Malu

Jalan untuk melestarikan rasa malu itu antara lain :
Pertama, setiap orang hendaknya menyadari apa yang mereka katakan dan mereka lakukan. Sehingga tidak keluar darinya sesuatu yang bertentangan dengan rasa malu, yang menyebabkan orang lain lebih berani bertindak kepadanya. Misalnya, hendaknya dia tidak mengucapkan kata-kata kotor ketika ada anak kecil, tidak berbohong, dan tidak mengingkari janji. Hal ini dilakukan dalam rangka mengupayakan tumbuhnya rasa malu pada diri anak-anak.. Bahkan dalam buku Mi’raj Sa’adah, orang tua dilarang pergi ke kamar mandi bersama anaknya, dan hal-hal lain.
Kedua, jika dia melihat orang lain berkata atau berbuat yang tidak senonoh dan sedikit rasa malunya, maka hendaknya dia mengatakan bahwa hal itu tidak baik. Di samping itu hendaknya dia memberikan peringatan kepada pelakunya agar perbuatan itu tidak terulang kembali. Misalnya, omongan kotor ketika seseorang bertemu dengan temannya, khususnya ketika dia sedang dalam keadaan marah.
Ketiga, jika dia melihat orang merasa malu, karena ucapan atau perbuatannya, maka hendaknya dia memujinya, atau memberanikan orang tersebut agar dia tetap mempertahankan perilaku seperti itu.
Dalam kesempatan ini, ada baiknya kami sampaikan bahwa jika itu dapat dijaga, maka setiap kali ada hal yang merangsang nafsu syahwat, atau ada film-film porno, maka hal itu sudah barang tentu akan berpengaruh langsung kepad rasa malu yang dimiliki oleh masyarakat.

Timbulnya Rasa Malu Bermula dari Mata

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari berbagai riwayat dan wejangan para ulama, bahwa timbulnya perilaku yang mulia pada manusia tampak dari matanya. Oleh karena itulah kita dilarang untuk meminta tolong atau bantuan kepada orang yang tidak melihat (buta), sebagaimana kita dilarang untuk meminta tolong di malam yang gelap gulita, meskipun kepada orang yang tidak buta, karena kedua mata orang tadi tidak dapat melihat dalam kegelapan. Alasannya ialah, karena kedua kondisi tersebut tidak akan menimbulkan rasa malu.

Saat-saat yang Tidak Tepat bagi Kita untuk Malu

Kadangkala manusia melakukan kesalahan dan merasa bahwa perbuatan yang bak tergambarkan olehnya sebagai suatu perbuatan yang buruk, karena dia merasa malu. Misalnya, malu bertanya tentang hal-hal yang belum dia ketahui, khususnya masalah-masalah yang berkaitan dengan agama. Malu seperti ini, menurut banyak riwayat, dinamakan malu orang bodoh, sebab dikatakan, “Tidak ada malu dalam masalah agama.”
Singkatnya, sesungguhnya rasa malu dalam mempelajari masalah-masalah agama, adalah salah. Seperti rasa malu untuk menampakkan kebenaran, dan mengambil keputusan untuk sesuatu yang benar, menampakkan kebenaran orang lain, atau menyatakan hak orang lain yang benar. Malu di situ sangat tidak tepat.
Juga, rasa malu yang salah adalah malu pada hal-hal yang sifatnya alamiah yang sudah kita terima, yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengubahnya, sehingga sangat tidak masuk akal bila ada orang yang mengejeknya. Misalnya : postur tubuh yang terlalu tinggi atau terlalu pendek, badan yang kurus atau sangat gemuk, rupa yang jelek, atau rambut yang terlalu hitam. Atau juga, sakit, fakir yang berada dil luar kemampuan manusia untuk mengubahnya, karena hal itu bukanlah sesuatu yang jelek.

Saat-saat Ketika Kita Patut Merasa Malu

Semua perbuatan yang dianggap oleh akal dan agama sebagai sesuatu yang jelek dan tidak masuk akal, patut mendapatkan rasa malu bila kita melakukannya. Sehingga dengan begitu, kita tidak mendekat kepada perbuatan tersebut, dan kita menjadi orang yang terpuji.
Rasa malu seperti itu terbagi menjadi dua bagian :
Pertama, rasa malu terhadap manusia, yakni seseorang meninggalkan suatu perbuatan yang kurang terpuji karen atakut dilihat oleh orang lain, sehingga dia merasa malu.
Kedua, rasa malu terhadap Allah, yaitu kesadarannya bahwa Tuhannya senantiasa mengetahui perbuatannya. Dia selalu mengawasi dan memperhatikan dirinya, apakah dia dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Baik dia dilihat oleh orang atau tidak dilihat, dia tetap merasakan bahwa Allah selalu berada di sampingnya, melihat dan mengawasinya, sehingga dia merasa malu kepada-Nya, dan meninggalkan perbuatan yang kurang baik.
Sesungguhnya letak kesempurnaan manusia adalah bila dia telah memiliki rasa malu dalam bentuk yang kedua. Kesengsaraan dan kehinaan masih mungkin akan didapati oleh seseorang bila ia merasa malu dilihat oleh orang lain, tetapi dia tidak merasa malu dilihat oleh Allah Swt. Orang lain tidaklah memiliki kemampuan untuk mengalirkan kebaikan, atau sebaliknya, mendatangkan kesengsaraan baginya, tetapi Allah Swt pasti mampu melakukannya.
Sesungguhnya para pengkhianat itu bisa menyembunyikan perbuatan mereka dari pandangan manusia, dan merasa malu dilihat oleh mereka. Akan tetapi, mereka tidak malu dilihat oleh Allah Swt yang selalu bersama mereka. Mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak diridhai oleh-Nya, padahal Allah mengetahui segala sesuatu yang mereka lakukan. Allah Swt berfirman :
Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS An-Nisa, 4 : 108).

Kami ingin mengutipkan di sini berbagai kisah mengenai rasa malu terhadap Allah yang dilakukan orang-orang yang baik, agar para pembaca sekalian dapat memetik pelajaran dari sifat yang sangat mulia ini. Di samping itu agar para pembaca mengetahui dan bertambah yakin bahwa Allah Swt selalu bersama kita, di setiap tempat. Kuat atau tidaknya rasa malu terhadap Allah adalah terpulang kepada kuat atau tidaknya iman seseorang terhadap keberadaan Allah di sampingnya.
Tuhan, campakkan diriku dalam sinar keagungan-Mu, agar aku arif. Jauhkan diriku dari selain-Mu. Jadikan diriiku penakut terhadap-Mu, yang selalu ingat kepada junjungan-Mu (Dikutip dari Munajat bulan Sya’ban, sebaiknya ungkapan tersebut diulang-ulang).

Rasa Malu Yusuf Ash-Shiddiq as

Dalam buku tafsir Manhaj Ash-Shadiqin, disebutkan bahwa Imam ‘Ali bin Al-Husain Zainal ‘Abidin mengatakan bahwa ketika Yusuf as digiring oleh Zulaikha ke ruangannya yang telah dihiasi kaca berwarna-warni dan lukisan yang membangkitkan birahi, kemudian dia menutup pintunya. Di kamar itu terdapat sebuah patung yang ditutupi oleh selambar kain di atasnya. Yusuf as bertanya kepada Zulaikha mengapa dia menutup kepala patung itu. Dia menjawab, “Agar dia tidak melihat apa yang akan kita perbuat, sehingga kita merasa malu kepadanya.”
Yusuf as kemudian berkata, “Aku lebih merasa malu kepada Allah Yang Mahakuasa.” Setelah itu, Yusuf as melarikan diri dari sisinya.

Rasa Malu Seorang Anak Habsyi

Seorang anak dari Habsyi setelah mendapatkan kehormatan untuk bertemu Rasulullah Saww; dan masuk Islam di hadapan beliau, serta hatinya disinari oleh cahaya Islam, bertanya kepada beliau saww tentang pengetahuan Allah Swt. Rasulullah Saww menjawabnya, “Dia tidak pernah terhalang oleh halangan apapun.”
Anak itu berkata, “Kalau begitu, ketika aku melakukan suatu dosa, Allah melihatku.”
Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Kasihan…”
Anak itu kemudian berteriak dan meninggalkan dunia yang fana ini.

Rasa Malu Seorang Penggembala

Umar bin Khaththab pernah bertemu dengan seorang anak yang sedang menggembalakan kambing. Dia meminta kepadanya untuk menjual seekor kambingnya kepadanya.
Kemudian penggembala itu berkata, “Kambing-kambing ini bukan milikku, dan majikanku tidak mengizinkanku untuk menjualnya.”
Umar mengatakan, “Juallah satu ekor kambing itu kepadaku, aku akan memberikan uangnya kepadamu. Kemudian katakan kepada majikanmu bahwa seekor serigala telah memakan seekor kambingnya.”
Penggembala itu menjawab, “Kalau begitu, di mana Allah ?”
Tingkah laku penggembala itu meninggalkan kesan yang sangat baik kepada Umar. Kemudian ia pergi menemui majikannya, dan membeli budak belian itu dan memerdekakannya. Lalu dia membeli beberapa ekor kambing dan memberikannya kepada anak itu.
Setelah peristiwa itu, Umar selalu mengulang-ulangi ucapan penggembala kambing itu : “Kalau begitu, di mana Allah ?”

Kuatnya Rasa Malu Al-Ardabili

Dalam kitab La’aliy al-Akhbar, dan kitab-kitab yang lainnya, ketika berbicara tentang Al- ’Alim Al-Rabbani, Mulla Ahmad Al-Ardabili – semoga Allah meninggikan derajatnya – dikatakan bahwa yang mulia pernah selama empat puluh tahun tidak menjulurkan kedua kakinya ketika duduk, tidur, apakah dia bersama orang lain atau sendirian.
Dia berkata, “Aku merasa malu dan tidak beradab, bila aku menjulurkan kakiku ke haribaan Tuhanku.”
Cerita seperti ini juga dilakukan oleh salah seorang ulama besar. Ketika beliau sakit menjelang kematiannya, beliau tidak mau menjulurkan kakinya, sambil berkata, “Selama umurku aku belum pernah melakukan sesuatu yang tidak beradab, di samping itu aku malu. Sekarang, bagaimana mungkin aku melakukan itu, toh umurku sudah akan habis.”
Ada orang mulia yang lain. Selamanya orang ini tidak pernah mengangkat suaranya. Kalau berbicara, dia berbicara dengan suara yang pelan. Dia berkata, “Sesungguhnya mengangkat suara dan berteriak di hadapan Allah adalah karena tidak punya rasa malu.”

Kalau begitu, bagaimana halnya dengan orang-orang yang meninggikan suaranya di hadapan Allah, atau mengatakan sesuatu yang kotor, atau membicarakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt ?
Dalam kitab yang sama juga disebutkan bahwa ketika ada seorang ulama sakit menjelang kematiannya, dia dijenguk oleh seorang penguasa pada waktu itu, yang berkata kepadanya, “Tinggalkan anak-anakmu kepadaku, dan jadikanlah aku ini sebagai penerima wasiatmu.”
Ulama yang mulia itu berkata, “Aku merasa malu untuk menitipkan anak-anakku kepada seseorang, karena Allah Swt masih ada.”
Ada cerita lain tentang Salim bin Abdullah, seorang zahid dan wara’, sedang berada di Masjid Al-Haram ketika Hisyam bin ‘Abd al-Malik datang ke sana. Ketika dia melihatnya dia berkata, “Hai Salim, mintakanlah keperluanmu kepadaku, akan kupenuhi semua permintaanmu.”
Salim berkata, “Keperluan dunia atau keperluan akhirat ?”
Hisyam menjawab, “Keperluan dunia.”
Salim berkata, “Sekarang ini aku tidak meminta keperluan duniaku kepada Pemilik dan Penguasa dunia (Allah). Aku hanya meminta keperluan akhiratku saja. Lalu bagaimana mungkin aku meminta keperluan dunia kepada orang yang bukan pemiliknya secara hakiki ?”

Rasa Malu Manusia di Hari Kiamat

Hari Kiamat adalah hari ditampakkannya semua hakikat. Semua hal yang dulu tidak tampak kini akan ditampakkan, sehingga manusia dapat mengetahui bahwasanya Allah Swt senantiasa, di mana pun, selalu bersamanya. Dia senantiasa melihat semua ucapan dan perbuatannya. Di sisi lain, seseorang dapat menyaksikan bentuk dirinya sendiri, bentuk lahiriahnya, berikut segala perilakunya, serta bentuk batiniahnya, seperti dijelaskan dalam sebuah hadis, “Manusia akan dikumpulkan yang tidak lebih baik daripada bentuk kera dan babi.”
Manusia akan melihat dirinya lebih jelek dibandingkan babi, kera; dan begitu pula amal perbuatannya akan ditampakkan di hadapannya, sebagaimana dikatakan oleh Alquran Al-Karim :
Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan di mukanya begitu pula kejahatan yang telah dikerjakannya. Ia ingin kalau kiranya antara dia dengan hari itu ada masa yang jauh…(QS Ali Imran, 3 : 30).
Pada hari ketika ditampakkan baginya seluruh amal perbuatannya, manusia merasa malu dan berharap segera dimasukkan ke neraka jahannam, sehingga dia bisa selamat dari rasa malu yang sangat menyiksa dirinya ketika dihisab dan ditonton oleh orang banyak. Dia sudah sangat dipermalukan dan masih masuk ke neraka jahannam.
Barangkali apa yang dilakukan oleh Imam Hasan as merupakan isyarat bagi persoalan ini. Beliau , apabila ingat akan mati, menangis. Dan jika dia ingat kuburan, dia juga menangis. Dan bila ingat hari kebangkitan dia juga menangis. Jika dia ingat surga dan neraka dia gemetar ketakutan, dan jika dia ingat bahwa amalnya akan ditampakkan di hadapan orang banyak, dia pingsan. []

_________________
*) Dinukil dari Catatan dari Alam Gaib karya Ayatullah Sayyid Abdul-Husain Dasytaghib (Bandung : Pustaka Hidayah), terjemahan Bahruddin Fannani pada hal. 135-45.

**) Diriwayatkan dari Imam Ja’far Ash-Shadiq as bahwasanya beliau berkata, “Rasa malu itu ada sepuluh bagian. Sembilan bagian di antaranya ada pada perempuan, dan yang satu bagian ada pada kaum laki-laki. Jika perempuan sudah mulai haid, hilang satu bagian rasa malunya. Jika dia sudah menikah, hilang lagi satu bagian; jika dia sudah digauli hilang satu bagian lagi; dan jika melahirkan hilang lagi satu bagian. Sehingga rasa malunya hanya tinggal lima bagian. Dan jika dia menyimpang, maka rasa malu itu akan hilang semuanya. Tetapi bila tingkah lakunya baik, maka rasa malu itu masih akan tersisa lima bagian.” (Bihar Al-Anwar, jilid VI, cetakan baru, hal. 244).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: