Tragedi Karbala

Dalam tragedi Karbala atau Asyura banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dan sekaligus diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebenarnya kejadian di padang Karbala, merupakan refleksi kehidupan manusia, karena salah satu peran yang ditampilkan disana adalah pengorbanan sejumlah manusia untuk sebuah tujuan yang sangat tinggi dan suci, yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan. Manusia sebagai makhluk yang ciri khasnya adalah bersosial, tidak lepas dari pengorbanan.

Peristiwa pertama adalah masalah pengorbanan. Berkorban itu penting sekali, artinya manusia ini dalam kehidupan mesti berkorban. Seorang Ayah artinya berkorban untuk atau demi sesuatu yang dia cintai, yang dia sucikan, itu adalah kenyataan dari kehidupan manusia ini. Seorang Ayah dia pasti mencintai istrinya. Seorang Ayah juga mencintai anaknya, jelas dia berkorban demi istrinya, demi anaknya. Dia keluar memeras keringat, banting tulang, demi istri dan anak, ini pengorbanan. Kita lihat para TKW atau TKI pergi ke luar negeri, meninggalkan kerabat dan kampung halaman, hanya untuk suatu pengorbanan. Pengorbanan ini mungkin demi istri, demi anak atau malah sebagian demi suami. Orang meninggalkan keluarganya bertahun-tahun, mungkin berhari-hari demi keluarganya. Atau sebaliknya orang yang karena cinta dunia mengorbankan keluarganya. Karena mencintai karir atau jabatan, akhirnya istri dan anaknya ditelantarkan. Dia kurang mendekati istrinya, dia menelantarkan istrinya, kasih sayang kepada anaknya juga dikurangi demi karir atau jabatan. Bahkan dia korbankan istri dan anaknya demi karir, demi prestise, atau kedudukan sosial. Dia harus berpahit-pahit demi yang dia cintai.

Pengorbanan adakah suatu hal yang alami. Kehidupan ini juga bukan lain adalah pengorbanan. Jadi pengorbanan adalah hal yang thabi’i atau hal yang manusiawi, yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Kita pilih apa yang kita cintai atau apa yang kita utamakan, sedangkan semua yang lain kita korbankan. Nah, Islam menjelaskan apa yang mesti kita korbankan, untuk apa kita berkorban. Para Nabi datang, para Imam diangkat, dalam rangka menjelaskan, “Wahai manusia pengorbanan yang kalian persembahkan seharusnya untuk Allah SWT..” Istri kita korbankan, anak kita korbankan, harta kita korbankan, malah nyawa pun kita korbankan demi Islam, demi kebenaran, demi Allah SWT.. Inilah yang hendak dijelaskan oleh Rasulullah saw.. Inilah yang ingin disampaikan oleh Imam Husein as. yang kita peringati hari wafatnya setiap 10 Muharram. Beliau mengorbankan semuanya demi kebenaran.

Al-Quran yang mulia menjelaskan ada seorang manusia yang luar biasa, yang mengorbankan apa pun demi Allah, demi hak, demi kebenaran, yaitu Nabi kita Ibrahim as. Bapak para Nabi, penghulu kaum monotheis, kaum muwahhidin. Allah SWT. menyebut Ibrahim as. dengan sebutan yang indah sekali dan melestarikan namanya dalam Al-Quran. Juga semua perbuatan Ibrahim itu dilestarikan melalui ibadah haji. Atas semua pengorbanan beliau, Allah memberikan satu bonus yang paling tinggi yaitu Imamah, kepemimpinan. Allah berfirman, “Ingatlah ketika Allah menguji Ibrahim dengan beberapa kalimat.” Para ahli tafsir menjelaskan kata ‘kalimat’ di sini adalah berarti, ujian. Allah telah menguji Ibrahim dengan berbagai ujian, dan Ibrahim mampu menyelesaikannya dengan sempurna. Allah menguji Ibrahim dengan bermacam-macam ujian, dan banyak sekali, berpuncak pada perintah untuk mengorbankan putranya Ismail.

Ibrahim as. ingin mempunyai seorang anak. Beliau mengadu kepada Allah, “Ya Allah tulangku sudah rapuh dan rambutku sudah mulai beruban, berilah aku keturunan.” Lalu Allah memberi beliau seorang putra bernama Ismail yang melalui Siti Hajar. Sangat girang sekali Ibrahim mendapatkan karunia anak. Di tengah kegembiraannya mempunyai anak, dia diperintahkan oleh Allah untuk hijrah ke Palestin dan meninggalkan istri dan anaknya di sebuah lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, yang kering kerontang, di dekat Kabah yaitu Mekah. Ibrahim diperintah oleh Allah untuk meninggalkan Siti Hajar beserta bayi yang masih kecil di sebuah tempat yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada air. Kalau kita mungkin tidak akan mau. Istri ditinggalkan tanpa ada makanan, tanpa ada air. Tapi ini adalah perintah Allah. Ibrahim as. taat karena perintah tersebut dari Allah. Kecintaan Ibrahim as. kepada Allah melebihi kecintaan kepada istri dan anak. Ini pengorbanan yang sangat besar. Saya kira diantara kita tidak ada yang sanggup sama sekali seperti Nabi Ibrahim, kecuali jika kita sudah sampai pada derajat Nabi Ibrahim.

Setelah dari Palestin kembali ke Mekah, kerinduan kepada anaknya luar biasa. Ibrahim as. bertetemu Ismail yang sedang lucu-lucunya. Ketika meluapkan rasa rindu dan kangennya kepada Ismail, Ibrahim as. bermimpi, di daslam mimpi tersebut Ibrahim as. menerima wahyu untuk menyembelih Ismail. Ini ujian lain yang lebih berat. “Wahai putraku,” kata Ibrahim, “aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmu”. Tapi mimpi Ibrahim adalah wahyu, yang berbeda dengan mimpi kita. Ismail pun bersedia disembelih.

Allah ingin menguji sejauh mana kecintaan Ibrahim, apakah dia lebih cinta kepada Allah atau kepada Ismail. Ternyata bagi Ibrahim Allah adalah segalanya. Ismail dikorbankan demi Allah SWT.. Ini adalah pengorbanan yang maha dahsyat, berat dan tidak mudah. Ibrahim mengerjakan dengan mudah karena mencintai Allah melebihi segalanya. Inilah pengorbanan yang hakiki, pengorbanan yang benar. Oleh karena itu Allah mengabadikan Ibrahim as. dalam Al-Quran dan semua perbuatan Ibrahim diabadikan oleh seluruh agama samawi. Semua agama samawi mengklaim sebagai pengikut Ibrahim. Kaum Yahudi berkata, kamilah pengikut Ibrahim. Kaum Nasrani mengaku kamilah pengikut Ibrahim dan kita orang Islam pun mengklaim sebagai pengikut Ibrahim, karena bangga menjadi pengikut Nabi Ibrahim.

Sekarang peringatan manasikul hajj ini simbol tentang perjuangan dan pengorbanan Ibrahim. Demikian pula kita selama ini, dalam memperingati Asyura yang merupakan lambang dari sebuah pengorbanan yang dipersembahkan oleh cucu Rasulullah saaw kepada Allah SWT.. Dia mengorrbankan anaknya yang paling kecil sekalipun, yang masih bayi menyusui dikorbankan dan terakhir nyawanya sendiri dikorbankan demi kebenaran, demi keadilan, demi Allah SWT., itulah peristiwa Asyura. Pengorbanan memang perlu perjuangan, tidak mudah, orang mungkin berkorban sesuai dengan kemampuan masing-masing. Orang yang mungkin berpenghasilan seratus ribu sebulan, kalau dia mengorbankan lima puluh ribu rupiah mungkin sangat berat. Kalau yang berpenghasilan jutaan rupiah lalu berkorban lima puluh ribu, bukanlah suatu pengorbanan namanya.

Allah berfirman, “Kalian tidak akan pernah mendapatkan birr (kebaikan) sampai menginfaqkan, mengorbankan apa yang kalian cintai.” Ini berat, kalau orang cinta kepada anak, kepada istri lalu harta dikeluarkan belum berkorban namanya, bukan birr karena dia lebih mencintai anaknya. Kalau orang mencintai harta dia korbankan istrinya, bukan birr namanya karena dia mencintai harta ketimbang istrinya. Mungkin sekarang ada orang yang demi mengejar karir dia rela mengorbankan istri dan anaknya. Berjam-jam di luar, istri dan anaknya ditinggalkan di rumah demi karir. Saya yakin berkorban demi kecintaan kepada dunia sampai rela meninggalkan istri dan anak itu bukan birr namanya. Sementara al-Husain, beliau mengorbankan, menginfaqkan apa yang dia cintai demi al-birr, demi kebaikan, demi Allah SWT., ini berat sekali. Tentu saja di sini, saya tidak bermaksud menghimbau Anda, hanya ingin menceritakan bahwa inilah peristiwa Asyura, dan jangan mengartikan bahwa saya telah berkorban, tidak demikian. Saya keberatan jika sebagai penceramah dianggap telah melaksanakan apa yang telah disampaikan. Mari kita sama-sama belajar dari madrasah Asyura. Kita belajar dari universitas Karbala sekarang ini, belajar dari beliau, Imam Husayn bin ‘Ali as.. Saya belajar, juga anda semua. Tidak hanya anda saja yang belajar, lalu saya tidak, kita sama-sama belajar dan berusaha. Pengorbanan itu tidak mudah, tapi kita mesti mencoba semampu kita.

Lihatlah Al-Husain as., dia mengorbankan semuanya. Dia mengorbankan kerabatnya. Dia korbankan anaknya dan dia korbankan nyawanya. Mana yang paling berat, semuanya berat yang bergantung pada yang kita cintai. Mungkin ada orang yang lebih mencintai anaknya ketimbang dirinya sendiri. Ada tidak ?, tentu banyak. Sering kita dengar, “dari pada anak saya sakit lebih baik saya yang sakit,” ada yang berpikiran begitu. Berarti dia lebih mencintai anaknya ketimbang dia sendiri, artinya dia siap sakit, siap mati, yang penting anaknya sehat dan hidup. “Biarlah saya yang mati, atau sengsara dari pada istri saya yang sengsara,” berarti dia lebih mencintai istri ketimbang dirinya sendiri. Jadi mengorbankan diri sendiri lebih mudah ketimbang mengorbankan anak, istri dan biasanya inilah yang sering terjadi. Ada orang yang cinta kepada binatang, dia pelihara binatang tersebut. Dia sendiri tidak mengurus dirinya, bahkan rasa lapar dilupakannya, karena asyik dengan binatang piaraannya. Artinya dia mengorbankan dirinya demi binatang piaraannya. Ini adalah realita kehidupan kita sekarang ini.

Kita lihat bagaimana Al-Husain as, semua tindakannya, telah beralih kepada kecintaannya kepada Allah yang merupakan tindakan pengorbanaann. Dia mengorbankan anaknya, agar tidak sampai anaknya lebih dia cintai ketimbang Allah Ta’ala. Dia korbankan para sahabat setianya. Dia korbankan negerinya Madinah. Dia korbankan hartanya, jelas. Dan terakhir dia korbankan nyawanya. Semua perkara yang kira-kira dapat menyedot perhatian dia, dia korbankan demi Allah Ta’ala. Itulah Karbala, itulah Asyura. Tanpa ingin membanding-bandingkan dan agar tidak disalah pahami. Kalau Nabi Ibrahim as. mengorbankan putranya lalu diganti dengan domba, tapi di Karbala Al-Husain as. mengorbankan anaknya apakah diganti dengan seekor domba. Mana yang lebih berat. Jawabannya terserah masing-masing.

Jadi pengorbanan Al-Husain jauh lebih berat dari pada pengorbanan kakeknya Nabi Ibrahim as. Ini jelas, Nabi Ibrahim diganti seekor domba, tapi Al-Husain as. mengorbankan anak yang masih kecil Abdullah Arrodhi. Dia angkat tangannya berilah air, datang anak panah menusuk sampai tembus ke lehernya, sehingga menjadi korban tanpa diganti dengan seekor domba. Ini pengorbanan. Oleh karenanya para Nabi as. jauh hari telah merayakan, telah memperingati Asyura. Nabi Nuh, Nabi Adam sekalipun, Nabi Ibrahim jauh-jauh hari telah merayakan peristiwa Asyura. Mereka tahu akan terjadi sebuah pengorbanan yang sangat besar, yang tidak pernah dikerjakan oleh siapapun di dunia ini, hatta Nabi Ibrahim as. Itu Asyura, mereka ingin mendaftarkan diri menjadi pasukan Al-Husain as. Dan juga jawaban yang lain, mengapa, apakah memperingati Asyura bid’ah? seribu tidak. Rasulullah saaw telah memperingati Asyura.

Ketika Sayyidah Fatimah melahirkan Al-Husain dalam perut bayi itu ada ludah Rasulullah saaw, ludah yang suci. Beliau memangkunya sambil menangis tersedu-sedu. Datang pembantunya, “Ya Rasulullah mengapa anda menangis, apa yang menyebabkan anda menangis ? ” Nabi menjawab, “Wahai Fulanah tadi Jibril datang kepadaku, dia mengatakan bahwa putraku ini yang baru lahir sekarang ini nanti akan dibunuh oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikutku.” Beliau menangis, beliau sebutkan bahwa itu akan dibunuh di padang Karbala. Itu Rasulullah sudah meratapi, memperingati, apa yang akan dialami oleh cucunya atau bayi yang baru lahir tersebut. Lalu Nabi bertanya kepada Ali as, “Wahai Ali apakah anda telah menamainya ?” Ali menjawab, “Aku tidak akan mendahuluimu dalam memberinya nama. ” Nabi menjawab, “Namailah Husain.”

Dan juga riwayat yang lain, Ummu Salamah ra. juga oleh Nabi diberi botol yang berisi tanah dari Karbala. “Wahai Ummu Salamah ini adalah tanah Karbala yang dibawa oleh Jibril untukku, kau simpanlah. Ketika tanah ini menjadi darah atau warnanya merah, maka pada waktu itulah cucuku Husain dibunuh.”

Jadi memperingati Asyura, menangis, meratapi wafatnya Imam Husein as. adalah sunnah Rasulullah saaw yang dikerjakan ketika beliau masih hidup. Jadi adanya kritikan dari pihak-pihak yang keberatan tadi, yang dikatakan oleh ketua Yayasan Al-Mukaramah, jelas kritikan yang tidak berdasar atau karena tidak mengetahui apa yang melatar belakangi peringatan Asyura. Jadi banyak hikmahnya kita ambil dari lambang Asyura, dari peringatan Asyura, yaitu pengorbanan. Pengorbanan untuk kebenaran, untuk Allah SWT., itu yang pertama.

Yang kedua, berkorban itu jelas terpuji dan dianjurkan oleh Islam. Tetapi Islam ingin menjelaskan ketika kita berkorban hendaknya berkorban dengan ikhtiar, dengan merdeka, dengan bebas tanpa ada paksaan, itu yang indah sekali. Kita berkorban untuk Allah Ta’ala, kita mengabdi kepada Allah tetapi pengabdian yang kita persembahkan, pengorbanan yang kita haturkan untuk Allah hendaknya dilandasi dengan kebebasan, dengan senang hati tanpa ada unsur paksaan.

Satu cerita menarik dari peristiwa Asyura ini, di malam Asyura, di malam ke sepuluh Muharram. Malam sudah tiba, kegelapan telah menyelimuti padang Karbala. Imam Husain as. memanggil para sahabat setianya. Beliau mengatakan, wahai para sahabat setiaku, aku tidak menyaksikan sahabat yang lebih setia dari kalian. Aku belum pernah lihat kerabat yang lebih baik dari kalian. Kita bayangkan sebagaimana kaum muslimin tahu, ini pasukan kecil yang akan menghadapi pasukan Yazid alaihi laknat. Konsekwensi berangkat ke Karbala adalah mati, banyak orang yang mundur dari itu. Sahabat besar pun semacam Abdullah bin Umar punya kebijakan, “Wahai Husain sebaiknya anda tinggal di Mekah saja, tidak membaiat Yazid, juga tidak menolak, abstain, kan aman.”

Ini prinsip dari Abdullah bin Umar. Aman sajalah kita bisa da’wah tanpa harus menolak baiat yang jelas mati akibatnya dan juga tanpa membaiat, karena baiat pada Yazid penguasa peminum khamar, kita diam-diam saja, kan aman. Ada orang yang cari keamanan, tapi Imam Husein menolak. Memang aman dan dia mungkin bisa ibadah dengan leluasa, dengan tenang tanpa akan diganggu oleh penguasa. Tapi Al-Husain as. punya tanggung jawab agama yang besar, punya amanat dari Allah SWT.. Andaikan beliau diam saja maka siapa yang akan berontak melawan kedzaliman. Kalau beliau diam saja seperti sejumlah sahabat yang lainnya, maka siapa yang akan membawa bendera keadilan, siapa yang akan membela kebenaran.

Orang bisa beralasan lihatlah Al-Husain pun diam, apalagi kita. Mereka akan mencaci, “Lihatlah cucu Rasulullah, jelas-jelas Yazid penguasa yang jahat, merusak agama, menyimpang dari sunnah Rasulullah, Al-Husain saja diam, untuk apa kita berontak.” Akan demikian sejarah akan mengatakan, tapi beliau untuk menghilangkan pendapat demikian mesti berontak, dengan resiko apapun harus beliau terima untuk membela kebenaran, sehingga tidak ada alasan manusia untuk mundur, tidak berontak, tidak bergerak sama sekali. Itulah pelajaran yang lain dari peristiwa Asyura.

Nah kembali pada kisah tadi, pada malam kesepuluh Muharram beliau mengumpulkan para sahabat setianya dan para kerabatnya. “Wahai para sahabatku sekarang malam gelap kalian pulanglah ke Madinah, bawa masing-masing pasangannya. Mereka para musuh hanya ingin membunuhku, mereka tidak ingin membunuh kalian, pulanglah kalian saya ikhlaskan tidak usah berjuang, saya tidak akan menuntut, mereka hanya menginginkan aku.” Ini ikhtiar, tapi bagaimana reaksi dari para sahabat beliau. “Wahai cucu Rasulullah, kalau kami membiarkan anda berjuang sendirian, dimana akan kami letakkan mukaku di hadapan Rasulullah saaw. Aku malu dengan kakekmu Rasulullah kalau kami membiarkan anda berjuang sendirian.” Ada yang menjawab, “Wahai cucu Rasulullah andaikan aku dibunuh sekarang ini dan jasadku dicincang-cincang sampai sekian bagian lalu Allah hidupkan lagi aku, aku berjuang lebih lagi sampai tujuh kali.” Artinya keikut sertaan para sahabat Al-Husain as. semata-mata karena ikhtiar, bebas, tanpa paksaan. Padahal beliau membebaskan, mengikhlaskan, kalian pulang dari Karbala. Mereka tidak mau, inilah sahabat yang hakiki.

Berjuang membela Al-Husain tidak karena ancaman, bukan karena tidak enak kepada cucu Rasulullah, tidak karena apa-apa, tapi karena semata-mata bebas dan cinta kepada Al-Husain as. Lain dengan peristiwa Thorik bin Ziyad, salah seorang panglima Bani Umayyah atau Abdullah bin Marwan. Ketika dia mendarat di benua Eropa atau Konstantinopel, dia membawa pasukan Arab atau pasukan Islam ke Eropa menyebrangi lautan mediterania. Setelah menyebrang kapal-kapal dibakarnya. Habis kapal dibakar, sementara pasukan Romawi di hadapan mereka. Thorik bin Ziyad berkata kepada pasukannya, “Wahai pasukan Islam, wahai pasukan Arab, terserah kalian pulang ke Arab sana tapi tidak ada kapal lagi. Ingin menyebrang lautan kalian mati dimakan ikan hiu atau perang melawan pasukan Romawi.” Ini pilihan pahit semuanya, jadi mereka berjuang terpaksa. Tapi lain dengan Al-Husain as. memberi peluang kepada para sahabat untuk pulang dan saya ikhlaskan, beda tidak, sangat beda sekali. Inilah hikmah atau pelajaran dari madrasah karbala. Dan banyak lagi hikmah-hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa Asyura Karbala.

Nah kita dalam memperingati Asyura setiap tahun ini, sejauh mana mengadakan evaluasi, koreksi terhadap diri kita. Sejauh mana kita meneladani Al-Imam Husain as. Bukan saya memudahkan, tentu itu adalah perjuangan, pengorbanan , tidak kita langsung berkata “Ah saya ikut Imam Husain sekarang juga.” Kita mesti bertahap-tahap, perlu pengenalan, perlu pembersihan hati, perlu melepaskan ikatan-ikatan materi dan dunia. Kalau sudah lepas dari ini semua mungkin orang bisa seperti para sahabat Imam Husain as. Kalau kita masih dibebani cinta dunia, istri, anak dan materi, jangan harap kita bisa seperti sahabat Imam Husein as.

Inilah peringatan Asyura. Inilah perlunya kita memperingati peristiwa tragis Karbala yang dialami oleh Imam Husein as. dan para sahabatnya. Oleh karena itu mari kita sampaikan duka cita kita yang mendalam kepada Rasulullah saaw. sebagai kakek Al-Husain as. Kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. sebagai ayahandanya. Kepada Sayyidah Fatimah Az Zahra as. sebagai ibundanya dan kepada Imam Hasan as. sebagai kakandanya dan kepada Imam kita yang terakhir Shahibuz Zaman Al-Mahdi Ajjalallahu Farajahu Assyarif dan kepada seluruh kaum muslimin dimanapun berada, atas syahadah, wafatnya Imam yang kita cintai, Imam Husain as. Akhirul kalam, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(Ceramah Ustadz Husein Alkaff pada peringatan hari Asyura di pesantren Al-Mukaramah Bandung, ditranskrip oleh : Donny Somadijaya, SH)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: