Rasululloh yang melantik para Imam Syi’ah (menurut kitab dari Ahl-Sunnah)

Tidak ada peneliti sejarah yang bersungguh-sungguh mempelajari tentang kehidupan Rasululloh saw, dan telah mengetahui sejarah Islam dengan baik yang meragukan kebenaran bahwa Rasululloh saw telah melantik semua Imam Syi’ah.

Jumlah telah disebutkan didalam buku-buku sahih ahl al-sunnah bersama dengan fakta bahwa mereka semuanya dua belas didalam jumlah angka, dan bahwa semua mereka keturunan dari Quraysh; ini disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Sebahagian rujukan sunni menunjukkan bahawa Rasululloh saw menamakan kesemua mereka, mengatakan bahwa yang pertama dari mereka adalah Ali ibn Abu Talib, diikuti oleh anaknya al-Hasan kemudian al-Husayn adik dari al-Hasan, diikuti kemudiannya oleh sembilan mereka dari keturunan al-Husayn yang terakhir adalah al-Mahdi

Pengarang sunni yang membidani Yanabi al-Mawaddah , Abul-Qasim Mahmud ibn Muhammad ibn Ahmad al-Khawarizmi al-Zamakhshari 367 AH / 978 AD menceritakan riwayat didalam bukunya:

Seorang Yahudi bernama al-A’tal datang kepada Rasulullah saw dan berkata: Muhammad saya berhajat untuk bertanya kepada kamu mengenai sesuatu perkara yang saya telah pendamkan didalam diri saya; maka jika kamubisa menjawabnya, maka saya akan menyatakan penerimaan saya kepada Islam dihadapan kamu. Rasululloh saw bersabda :”Tanyalah, Wahai bapak Imarah! Maka dia bertanya kepada baginda banyak perkara sehingga dia merasa puas dan mengakui bahawa Rasul adalah benar.

Kemudian dia berkata : “Beritahu kepadaku mengenai pengganti kamu: Siapakah dia? Tidak ada Rasul yang tidak mempunyai wasi; Rasul kami Musa telah melantik Yusha [joshua] anak dari Noon sebagai pengganti dirinya.

Baginda berkata: Wasi saya adalah Ali ibn Abu Talib diikuti oleh cucu saya al-Hasan dan al-Husayn diikuti oleh sembilan orang dari keturunan al-Husayn.
Yahudi itu berkata: Maka namakan mereka kepada saya, Wahai Muhammad!

Kemudian Rasululloh saw bersabda :” Apabila al-Husayn pergi, dia akan diganti oleh anaknya Ali; apabila Ali pergi, anaknya Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, anaknya Jafar akan menggantikan. Apabila Jafar pergi, dia akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikan. Apabila Ali pergi, anaknya Muhammad akan menggantikan. Apabila Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikan. Apabila Ali pergi anaknya al-Hasan akan menggantikan dan apabila al-Hasan pergi, al-Hujjah Muhammad al-Mahdi akan menggantikan. Inilah mereka yang dua belas. Maka orang Yahudi itu memeluk Islam dan memuji Allah kerana telah memberi dia petunjuk.

Jika kita berhajat untuk membuka halaman muka surat buku-buku Syi’ah dan meneliti fakta yang terdapat didalamnya , kita pasti akan menjumpai berlipat kali ganda banyaknya hadith yang serupa dengannya, tetapi ini telah mencukupi untuk membuktikan bahawa ulama ahl al-sunnah wal-jamaah mengaku bahawa jumlah Imam adalah dua belas, dan tidak terdapat Imam-imam yang lain disamping Ali dan keturunannya yang suci.

Apa yang menguatkan kepercayaan kami adalah bahwa dua belas Imam ahl al-bayt tidak pernah diajari / berguru kepada ulama manapun dari ummah dan faktanya adalah bahwa tidak ada ahli sejarah, para hadith, dan para pembuat riwayat hidup yang menceritakan atau berkata bahwa seorang Imam dari ahl al-bayt telah mempelajari apa yang dia ketahui dari beberapa orang sahabat atau tabien sebagaimana hal nya dengan ulama-ulama umma dan imam-imam mereka.

Abu Hanifah sebagai contohnya adalah pelajar Imam Jafar; Malik adalah pelajar Abu Hanifa; al-Shafii belajar dari Malik dan begitu juga Ahmad ibn Hanbal. Tetapi bagi Imam ahl al-bayt, pengetahuan mereka adalah anugerah dari Allah [awj] dan mereka mewarisi pegetahuan sedemikian anak dari bapa, kerana merekalah yang Allah [awj] dengan khusus merujuk apabila Dia berkata: Kemudian Kami berikan kitab untuk diwariskan kepada mereka yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami. [35:32]

Imam Jafar al-Sadiq telah menyatakan fakta ini apabila dia berkata: “Betapa anehnya sebilangan manusia ini! Mereka mengatakan bahawa mereka mengambil semua pengetahuan mereka dari Rasululloh saw, maka mereka telah mengamalkannya dan mendapat petunjuk!

Dan mereka menyampaikan dengan berkata bahwa kami, ahl al-bayt, tidak mempelajari sebarang ilmu pengetahuan, makanya kami tidak dapat petunjuk, sedangkan kami adalah keluarga dan keturunannya: didalam rumah kami wahyu diturunkan; dari kami maka pengetahuan itu diagihkan kepada manusia! Adakah mereka benar-benar telah mempelajari ilmu pengetahuan dan mendapat petunjuk sedang kami tinggal jahil dan sesat?!

Bagaimana Imam al-Sadiq tidak hairan kepada mereka yang mengatakan telah belajar dari Rasululloh saw sedang mereka mempunyai perasaan dengki dan permusuhan kepada ahl-Baytnya dan kepada pintu ilmu pengetahuan yang akan membawa kepada ilmu tersebut?!
Bagaimana dia terpaksa menyatakan keanehannya terhadap mereka-mereka yang mengelar dirinya ahl al-sunnah sedang mereka melakukan yang sebaliknya dari apa yang ada didalam sunnah?!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: