Keberagamaan sebagai “Proses Menjadi” (Prolog Kajian “Teologi Populer”)

Menyakini sesuatu bisa dilakukan lewat proses penalaran, induktif dan deduktif. Yang pertama adalah pergerakan nalar dari premis minor ke premis mayor. Sedangkan yang kedua mengandaikan proyeksi nalar dari premis mayor ke premis minor.

Berdasarkan proses nalar induktif, agama sebagai modus keyakinan, ditelaah dari konsep-konsep mikro yang merupakan produk-produknya menuju konsep besar atau makro. Akibatnya, agama cenderung dipandang dan ditelaah sebagai fakta-fakta sejarah dan produk peradaban beserta ragam elemennya; proses kemunculannya, tata cara peribadahannya, prilaku para penganutnya, sekte-sekte, serta konflik yang terjadi di dalamnya.

Proses nalar induktif meniscayakan seorang pemilih dan penelaah agama menelusuri realitas partikular satu demi satu, menjahit-jahitnya, sebelum mengambil sebuah kesimpulan umum, baru kemudian menentukan pilihannya.

Pendekatan ini sangat mungkin mengantar seseorang kepada kesimpulan skeptis terhadap semua agama, karena betapa banyak prilaku para penganut agama tidak mencerminkan konsep agama yang diklaim. Sebaliknya, kadang prilaku orang yang tidak didasarkan pada klaim agama cenderung harmonis dengan klaim agama. Paradoks ini menjuatkan polemik ‘subtansi agama’ dan ‘forma agama’.

Mempelajari agama dengan cara pertama ini memerlukan banyak energi sekaligus data kongkret dan pengalaman. Inilah yang umum dilakukan, misalnya, oleh kebanyakan pengkaji agama asal Barat (yang acap dijuluki kaum Orientalis, kendati sesuai makna aslinya, mereka lebih cenderung menjadikan Timur sebagai objek kajian, termasuk Islam). Mereka mempelajari dan menelaah agama hanya sebagai fenomen-fenomen sejarah (premis-premis minor). Kecenderungan ini bisa dipahami mengingat pemikiran mereka mengapung dalam atmosfir positivisme dan empirisisme. Padahal tak sedikit orang berpindah(-pindah) agama karena menggunakan metode ini. Alasannya, untuk menganut sebuah agama, sebagaimana hendak membeli buah, kita harus “mencicipinya” lebih dulu (inilah produk paling nyata dari proses nalar induktif).

Lewat nalar deduktif, agama tampak sebagai rangkaian konsep besar atau premis mayor yang diturunkan menjadi premis-premis minor, yang merupakan produk-produknya. Mempelajari atau memilih sebuah agama lewat nalar deduktif, mengharuskan seseorang menghimpun seluruh prinsip umum (premis-premis mayor) yang menjadi cikal bakal agama, lalu menyusunnya secara sistematis dan serbarunut. Proses deduksi ini meniscayakan sebuah tamasya intelektual dari satu premis mayor ke premis-premis minor yang jadi turunannya lewat verifikasi sebelum berhenti pada sebuah kesimpulan. Memilih agama lewat deduksi, menurut para deduksionis (orang-orang yang mengusung pola nalar deduktif), tak ubahnya meminum air setelah memastikan kemurnian sumbernya.

Nalar deduktif keagamaan memulai kerjanya dari prinsip paling awal yang merupakan tonggak utama agama, yaitu ketuhanan. Dalam pada itu, tersedia dua pola argumentasi untuk membuktikan keberadaan Tuhan; al-burhan al-limmi (argumen kausal), pembuktian dari sebab ke akibat; dan al-burhan al-inni (argumen efektual atau eksistensial, pembuktian dari akibat sebab akibat.
Mungkin salah satu titik lemah pendekatan ini ialah melebarnya jarak antara klaim agama dan fakta objektif prilaku para penganutnya. Yang akan muncul adalah sejumlah pertanyaan, antara lain, bila agama diproteksi dengan klaim dan konsep metafisik, dan bahwa prilaku para penganutnya tidak mencerminkan konsepnya, maka apa yang bisa diambil dari agama?

Akan lebih aman bila agama dipandang sebagai cita-cita yang didambakan. Artinya, keberagamaan adalah “proses menuju” dan “proses menjadi” bukan sesuatu yang sudah final. Bila dipandang dengan cara demikian, kita tidak akan resah melihat paradoks agama dengan prilaku serta fenomena yang hadir di hadapan kita. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: