Catatan Muhsin Labib: Hati-hati!! (Renungan)

Makalah ini mungkin pernah dibaca oleh sebagin friend. Tapi saya yakin pasti ada yang belum membacanya. Semoga bermanfaat sehingga saya, penulisnya, bisa mendapatkan pahala dan ampuna. (Penulisnya minta honor “doa”…)

Jangan heran, bila melihat pria eksekutif merawat jenggot atau pedagang saham berdasi memutar tasbih. Gedung-gedung mewah di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia mulai gemar menyelanggarakan pengajian atau zikir bersama. Di sejumlah kawasan elit di beberapa rumah mewah juga kerap diadakan acara zikir dan pengajian tasawuf yang dihadiri oleh selebritis ‘yang tobat’. Ibu-ibu pejabat serta mantan pejabat yang mulai mengurangi hobi shopping dan merawat kuku dan keriput di klinik kecantikan karena punya hobi baru, yaitu tadabbur dan ‘uzlah’ di puncak yang sejuk dan asri.

Tasawuf dan spiritualisme kini menjadi gaya hidup metropolis paling gres! Sejumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang manejemen ruhani pun tumbuh bagai demam berdarah di musim hujan. Ada yang mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pembersihan ‘jerowan’. Ada pula yang menawarkan paket pelatihan jiwa, mulai dari teknik pernapasan spiritual, sampai kombinasi tai chi dan zikir. Bahkan ada yang menyelenggarakan training khusyuk dengan biaya yang lebih besar dari harga tiket konser Gigi dan Gusi. Ditengarai, para doktor dan guru besar mulai malas memberikan kuliah rutin di perguruan tingginya karena kepincut ‘tasawuf full AC’ yang tentu tidak perlu khawatir lagi mendapat pertanyaan kritis mahasiswa. Semuanya beramai-ramai berbicara tentang ‘hati’.

Hati telah menjadi kata yang cukup akrab, bukan karena sering menjadi judul lagu dan sinetron yang hanya menjajakan sensualitas murahan, horor menggelikan dan glamour imajinal, tapi karena ia adalah alat yang paling akurat untuk menangkap realitas, menggungguli indera dan akal.

Kata hati dalam bahasa disebut qalb. Kata in merupakan bentuk masdar dari qalaba, yang berarti membalikkan, mengubah, memalingkan, mengalami perubahan. Ia disebut qalb karena karakteristiknya yang dinamis. Qalb adalah lokus dari kebaikan dan kejelekan, kebenaran dan kesalahan. Dengan kata lain, hati menunjukkan sentralitas dalam diri manusia sebagai pusat kepribadian dan membuat manusia menjadi manusiawi.

Secara terminologis qalb mempunyai dua makna, yaitu hati dalam bentuk fisik, organ kenyal yang berada di samping kiri dada, yang juga disebut jantung; dan hati dalam bentuk ruh atau lathifah. Kata qalb juga diartikan secara luas sebagai sebuah sarana pengetahuan yang memberikan rasa tentang keberadaan Tuhan dan rahasia-rahasia-Nya serta realitas esoteris.

Dalam al-Qur’an, kata qalb digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang berfungsi sebagai pengendali pikiran dan kehendak, yang di sebut akal. Kata ‘qalb’ dalam surah 50: 37 ditafsirkan sebagai akal. “Sungguh di dalam itu adalah peringatan (dzikra) bagi orang yang mempunyai qalb”.

Al-Qur’an telah menegaskan di sejumlah ayat tentang peran vital hati sebagai pusat pengetahuan yang benar, keyakinan dan iman, sebagaimana dalam ayat 22 surah Mujadilah dan ayat 7 surah Ali Imran; “Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an atau hati-hati itu terkunci” (QS: Muhammad: 24). Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman: “Langit dan dan bumiku tidak mampu menampung-Ku, namun hati hamba-Ku yang mukmin menampungnya”. (Afifi, Muqadimah va Ta’liqat bar Fushus al-Hikam, fash 12).

Rasulullah Saw bersabda: Ingatlah bahwa dalam tubuh terdapat sepotong daging (mudghah), apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah, sepotong daging itu adalah hati.

Ibn Arabi menganggap hati sebagai akibat dari rahmat Allah Swt, bahkan ia adalah rahmat yang paling luas, karena hati seorang arif hanya berisikan al-Haq semata. (Fushus al-Hikam, Fash Syuaibi). Menurut Al-Qusyairi, hati adalah tempat makrifat, akal adalah syarat rukun untuk mendapatkan makrifat. Namun, akal tidak mampu mengetahui hakikat-hakikat yang tersembunyi (Ar-Risalah al-Qusyairiyah, hal. 117). Menurut Suhrawardi, kesaksian hati adalah lebih utama dari pengetahuan berperantara (hushuli), media kesaksian hati, yaitu penyucian dan pembersihannya adalah lebih baik dari ilmu logika (mantiq), sebagai media pengetahuan berperantara. (Hikmah al-Isyraq, 50, 52, , 561).

Ada sejumlah kondisi hati yang memerlukan perawatan maksimal. Pertama, hati yang keras (al-qalb al-qasi). Menurut Ar-Raghib Al-Isfahani, al-qasawah berarti soliditas yang berasal dari sifat ‘al-qasi’ yang disandang oleh batu yang keras. Dalam surah al-Baqarah ayat 74, Allah Swt menyamakan sejumlah manusia berhati keras dengan batu cadas yang keras, bahkan lebih. Ketika menasehati putranya, Ali bin Abi Thalib, berpesan, “Karena itulah aku mendidikmu dengan kesopanan, agar hatimu tidak mengeras..” (Nahjul-Balaghah, surat ke 31).

Kedua, hati yang menyimpang. Ar-Raghib al-Isfahani dalam al-Mufradat mengartikan ‘az-zaigh’ sebagai ambivalensi dan inkonsistensi. Allah Swt memperingatkan pemilik hati plin plan dan korup ini; “Ketika mereka menyimpang, maka Allah menyimpangkan hati mereka’ (QS: 61::5).

Ketiga, hati yang berkarat. Hati menjadi seperti besi yang berkarat dan rapuh apabila manusia melakukan kemaksiatan dan perbuatan nista. Allah Swt menyifati hati orang-orang yang mendustakan hari kiamat sebagai hati yang berkarat dan sulit dibersihkan karena terlalu lama. Inilah hati yang tak lagi mampu menjadi tiang penyangga kokoh.

Keempat, hati yang tertutup. Allah Swt menggambarkan dalam surah al-Baqarah ayat 7, bahwa hati yang telah ditutup dan disumpel adalah hati kaum munafik yang mengira telah mengejek Allah, padahal merekalah yang telah diejek dan dihinakan-Nya.

Kelima, hati yang buta. Allah Swt menegaskan bahwa orang-orang yang menyianyiakan hati dengan endapan dosa adalah orang-orang buta hati. Mereka punya mata tapi tak dapat melihat, bahkan bisa terbang lebih tinggi dari gagak dan menyelam laut lebih dalam dari hiu, tapi tak mampu menjadi manusia sejati. “Mata mereka tidak buta mata, tapi mereka buta hati” (QS: 22: 46). Allah Swt juga memberikan warning bahwa orang-orang yang buta hati di dunia akan dibangkitkan di akhirat kelak dalam keadaan buta (buta mata).

Lalu, mungkinkah kebersihan hati diperoleh dengan berzikir di mesjid yang asri dan sjuk (karena pendingin ruangan), membersihakan badan, memakai kerudung dan busana serba putih (dan mahal) dengan jeda iklan produk pemutih pakaian dan kulit? Apakah hati bersih hanya milik yang kaya, cantik dan berpendidikan tinggi?

Hati yang higenis sangat penting, bukan pakaian necis dan kumis ritmis. Profesionalisme seorang pejabat bukanlah jaminan kinerja yang baik. Kita semua tahu bahwa sebagian ‘santri’ di LP Cipinang bergelar profesor. Selain profesional dalam bidangnya, mereka juga professional dalam seni ‘maling’. Orang partai? Apalagi? Sebagian besar hanya professional dalam satu bidang: mencari kekuasaan.

Setiap orang, keren maupun kere, cantik imut-imut maupun semrawut amit-amit, elite maupun alit, ber-uang setelah jadi beruang maupun beruang karena tidak ber-uang, di puncak yang asri maupun di lokasi sutet, melalui training digital (dengan audio-video system dan infocus) maupun manual (sorangan wae), bisa memiliki hati yang bersih dan memperoleh pengetahuan emosional bila telah melakukan takhalli dan tahhalli, dua paket murah meriah, bebas biaya snack, biaya modul, bebas potongan PPN bahkan gratis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: