Imam Husain (as) Penghulu Para Pemuda Surga. (Bag. II)

Kini, tibalah giliran kepala-kepala suci syuhada Karbala…

Umar bin Sa’ad memerintahkan setiap kabilah memotong kepala-kepala syuhada Karbala yang akan dipersembahkan kepada Ubaidillah bin Ziyad dengan harapan hadiah darinya. Maka, bersiaplah suku Kindah bersama panglima Qais bin Asy’ats dengan 13 potong kepala, suku Hawazin bersama tentara Syimir dengan 13 potong kepala, suku Tamim dengan 7 potong kepala, bani As’ad dengan 16 potong kepala, dan pasukan lainnya dengan sisa kepala syuhada Karbala lainnya.

Padang Karbala memerah karena Qasim bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib telah tersungkur. Muslim bin Awsajah telah berhias diri dengan tombak dan luka yang menganga lantaran pedang. Al-Hur telah gugur. Habib bin Madhahir, yang memiliki keistimewaan selalu melaksanakan shalat Subuh dengan wudu shalat Isyanya selama 40 tahun berturut-turut, telah berlumur darah. Kedua tangan Abul Fadl Abbas telah terpisah dari jasadnya. Abdullah bin Husain tak lagi menangis karena menahan haus. Keluarga dan pengikut setia al-Husain telah melepas rindu, bertemu Rasulullah saww. Mereka telah disambut oleh senyum al-Zahra. Sementara al-Husain, yang tentangnya telah dipesankan datuknya, Rasulullah saww,

“Wahai manusia, inilah Husain bin Ali, kenali dan muliakan dia! Ya Allah, kutitipkan dia pada-Mu.”

Kini telah tersungkur lantaran tusukan tombak, panah, dan pedang (menurut riwayat, bekas luka dan memar di jasad suci al-Husain tak kurang dari 6.666 tanda; sejumlah bilangan ayat-ayat suci al-Quran). Dan kepala suci al-Husain kini telah terpisah dari jasadnya. Beginilah al-Husain, titipan kenabian dan amanah risalah bagi umatnya, bahkan yang tak sezaman dengannya. Dan Rasul saww pun telah menitipkannya kepada kita…

Yang terdengar saat itu hanyalah isak tangis Sukainah, Atikah, dan Ummu Kultsum, juga ratap tangis para yatim dan janda-janda Ahlul Bait. Yang tampak hanyalah jasad-jasad yang berserak tanpa kepala; tak dimandikan, tak dikafankan, dan tak dikuburkan.

Setelah tragedi maha agung itu berakhir pada terbunuhnya al-Husain dan para pahlawan Karbala, keluarlah Zainab dari kemahnya; bak ksatria yang akan berlaga di medan perang. Sorot mata Zainab menyapu jasad-jasad itu; mencari jasad abangnya, al-Husain, tanpa peduli pada barisan tentara musuh yang bersenjata. Dan pandangannya pun berhenti pada jasad kakaknya, al-Husain, yang tercabik-cabik oleh pedang dan injakan kaki-kaki kuda. Selang beberapa saat, Zainab tertegun. Kemudian, dia menatap langit dan berdoa dengan pedih:

“Ya Allah, terimalah persembahan kurban ini dari kami…Wa Muhammadah…. Inilah al-Husain yang terkubur di Padang Karbala. Semoga langit menindas bumi, semoga gunung roboh dan meratakannya… Inilah al-Husain yang berlumur darah, tercabik-cabik tubuhnya, sementara putri-putri Rasul-Mu menjadi tawanan.”

Inilah tempat yang akan menjadi saksi di akhirat nanti, yang kan diadili Allah Swt.”

Setelah Aba Abdillah al-Husain terbunuh, pasukan Ibnu Ziyad langsung menuju wanita-wanita dan kehormatan-kehormatan al-Husain. Musuh-musuh Allah itu merampas semua yang ada di kemah putri-putri Rasul saww. Mereka membakarnya; berlomba-lomba menghancurkan kesucian Rasulullah saww. Maka, berlarianlah putri-putri al-Zahra, sambil menangis dan menjerit…

Wa Husainah….! Pasukan Ibnu Ziyad merampas semua anting-anting dan gelang. Bahkan seorang laki-laki pasukan Ibnu Ziyad menarik kedua anting-anting Ummu Kulstum dengan paksa, sehingga robeklah kedua telinga Ummu Kultsum. Seorang yang lain mendekati Fathimah, putri al-Husain. Maka lepaslah anting-antingnya. Laki-laki itu lantas menangis. Fathimah bertanya kepadanya, “Kenapa engkau menangis?”

“Bagaimana tidak menangis, sementara aku telah menawan dan merampas anting-anting putri Rasulullah …” jawab lelaki itu.

Fathimah kemudian berkata, “Kalau begitu, kembalikan padaku!”
Laki-laki itu menjawab, “Aku takut orang lain mengambilnya…”

Putri-putri Ali bin Abi Thalib menggigil ketakutan… Melihat semua itu, Zainab maju ke depan sambil mendekap Ummu Kultsum dan Atikah seraya berkata, “Belum cukupkah kekejaman kalian dengan meyatimkan gadis-gadis ini? Mengapa kalian merasa harus menyempurnakan kekejaman itu dengan membakar kemah-kemah kami dan merampas harta serta kehormatan kami?”

Maka, terdengarlah teriakan dari salah seorang pasukan yang tak punya nurani, “Beruntunglah kalian karena kami tak sampai membunuh kalian. Ketahuilah, hai para wanita! Yazid dan Ibnu Ziyad memerintahkan kami agar membasmi al-Husain beserta seluruh rombongannya, termasuk kalian para wanita!”

“Jika demikian, biarkan kami di sini mengurusi jasad al-Husain dan para pengikutnya,” balas Zainab.

“Hai… kami akan menggiring kalian semua dan menancapkan kepala al-Husain di ujung tombak lalu menyerahkannya kepada Ubaidillah sebagai bukti, sebagaimana perintah gubernur sebelum kami meninggalkan Kufah!” jawab yang lain di antara pasukan musuh-musuh Allah itu.

Zainab lalu menengadahkan wajahnya ke langit seraya berdoa, “Ya Allah… gandakan kekuatan dan ketabahan kami, sebagai ganti al-Husain dan para pengikutnya.”

Kemudian, tentara-tentara bayaran Ubaidillah bin Ziyad itu melihat Ali bin Husain al-Sajjad yang terbaring sakit. Terdengarlah teriakan salah seorang di antara mereka, “Hai teman-teman, masih ada anak-anak Husain yang masih hidup. Jangan sisakan mereka!”

Yang lain berkata, “Jangan tergesa-gesa membunuhnya; kita bawa dia kepada Amir Umar bin Sa’ad.”

Syimir lalu mengeluarkan pedangnya dan hendak membunuh Ali bin Husain. (Imam Ali Zainal Abidin as) Maka berkatalah Humaid bin Muslim kepada Syimir, “Sub-hânallâh, apakah engkau hendak membunuh anak kecil yang sedang sakit ini?”

Syimir menyergah, “Ibnu Ziyad memerintahkan kami membunuh semua anak al-Husain!”

Namun, Ibnu Sa’ad melarangnya, setelah mendengar Aqilah Zainab, putri Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Cukup! Jangan kalian membunuhnya hingga aku terbunuh…” Mendengar ucapan dan sorot mata tajam Zainab, mereka mengurungkan niatnya.

Musuh-musuh Allah itu tak puas sampai di situ. Tak puas merampas anting-anting dan gelang keluarga al-Husain, mereka keluarkan putri-putri Rasulullah saww dengan membakar kemah-kemahnya. Maka, berhamburanlah wanita-wanita itu, sambil menangis dan berteriak, “Demi Allah, tidakkah kalian membiarkan kami tanpa melewati jasad al-Husain?”

Wahai para junjunganku, Wahai para kekasih Allah. Karunia Allah atas kalian. dan Laknat Allah atas para musuh – musuh Allah yaitu orang yang menganiaya kalian baik dari yang pertama hingga yang terakhir.. Amin ya Rabbal Alamin..

Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq As, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Di hari kiamat kelak, Allah akan membangunkan sebuah kubah yang terbuat dari cahaya untuk Fatimah. Lalu Al-Husain akan datang dengan kepala di tangannya. Saat menyaksikan hal itu, Fatimah menjerit histeris hingga tak ada satu pun malaikat maupun nabi kecuali ikut larut dalam tangisan menyertainya. Maka Allah menampakkannya di depan Fatimah dalam sebaik-baik rupa. Kemudian Al-Husain As menyerang para pembunuhnya tanpa kepala. Setelah itu Allah menghadapkan kepadaku semua orang yang ikut andil dalam membantai dan mencincangnya untuk kubunuh semuanya. Lalu mereka dihidupkan kembali untuk dibunuh oleh Amirul Mukminin Ali. Setelah itu mereka dibangkitkan lagi. Kini giliran Al-Hasan membantai mereka. Mereka hidup lagi. Al-Husain membunuh mereka semua. Kemudian mereka dihidupkan lagi. Lalu satu persatu keturunanku membunuh mereka semua. Saat itulah, kemarahan dan dendam yang lama terpendam tersalurkan dan semua derita dapat dilupakan.”

Kemudian Imam Ja’far Shadiq As berkata, “Semoga Allah merahmati Syiah kita. Demi Allah, mereka adalah orang-orang Mukmin sejati. Mereka ikut menyertai kita dalam musibah dengan kesedihan dan derita mereka yang berkepanjangan.”

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Di hari kimat kelak, Fatimah datang diiringi oleh sekelompok wanita. Terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk surga. Ia menolak dan berkata, “Aku tidak akan masuk sebelum tahu apa yang diperbuat umat terhadap anakku.”

Terdengar suara, “Lihatlah ke tengah-tengah padang Mahsyar !” Fatimah As melihat Al-Husain As berdiri tegak tanpa kepala. Ia menjerit histeris menyaksikan keadaan putranya. Aku pun ikut menjerit mendengar jeritannya. Demikian juga para malaikat.”

Dalam riwayat lain disebutkan: Fatimah meratap dan mengatakan, “Oh anakku! Oh buah hatiku!” Beliau meneruskan, Saat itulah Allah murka karena kemarahan Fatimah, lalu memerintahkan agar mereka semua dimasukkan ke dalam neraka yang disebut Habhab yang telah dinyalakan seribu tahun lamanya hingga berwarna hitam. Tak ada jalan bagi kesenangan untuk masuk ke dalamnya dan tak ada jalan bagi kesusahan untuk keluar darinya. Datang perintah dari Tuhan kepadanya, “Santaplah para pembunuh Al-Husain!” Neraka itu pun segera melahap habis mereka. Setelah mereka berada di dalamnya, ia menggelegar diiringi oleh teriakan dan jeritan mereka.

Mereka lantas berseru, “Tuhan, mengapa Engkau menyiksa kami sebelum para penyembah berhala ?”

Datang jawaban dari Allah yang mengatakan, “Orang yang tahu tidak seperti orang yang tidak mengetahui.”

Kedua hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Babuwaih. Naskah A setelah ini menyebutkan:

Disebutkan dalam kitab Tadzyil karangan Syekh Muhadditsin di Baghdad Muhammad bin Najjar jilid ke-30 dalam biografi Fatimah binti Abul Abbas Al-Azdi dengan sanadnya dari Thalhah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Musa bin Imran pernah memohon dari Tuhannya, “Tuhanku, saudaraku Harun telah meninggal dunia. Ampunilah segala kesalahannya.” Allah menjawabnya dengan berfirman, “Hai Musa anak Imran, jika kau memohon ampunan untuk seluruh umat manusia dari zaman dahulu hingga akhir kelak, niscaya akan kukabulkan permintaanmu itu. Kecuali bagi mereka yang telah membunuh Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib As.”

“Kamu tidak akan dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (al-Mujadalah: 22)

Firman-Nya lagi: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih-sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (Al-Mumtahanah: 1)

Bersabda Nabi SAWW: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlu Baitku di sisi kalian bagaikan bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang ikut selamat dan yang tertinggal akan tenggelam.” Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 151; Yanabi’ al-Mawaddah hal. 30,370; as-Shawa’iq al-Muhriqah hal. 184,234.

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlu Baitku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni.” Lihat Is’afar-Raghibin danJami’ as-Shagir.

Bersabda Rasulullah SAWW: “Wahai manusia, telah kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang padanya, maka kalian tidak akan tersesaf selama-lamanya: Kitab Allah dan itrah ahlu baitku.”
Sabdanya lagi: “Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, kutinggalkan kepada kalian dua peninggalan yang berat (Tsaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Kedua: ahlu baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baitku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baitku ini.”

Bersabda Nabi SAWW sambil menunjuk kepada Ali:
“Sesungguhnya ini adalah saudaraku, washiku dan khalifahku setelahku. Maka dengarlah dan taatilah dia.” TarikhThabari jil.2 hal.319; Tarikh Ibnu Atsir jil. 2 hal. 62
As-Sirah al-Halabiah jil. 1 hal. 311;Syawahid at-Tanzil Oleh al-Hasakani jil. 1 hal. 371; Kanzul Ummal jil. 15 hal. 15; Tarikh Ibnu Asakir jil. 1 hal. 85; Tafsir al-Khazin Oleh Alaudin as-Syafei; Hayat Muhammad Oleh Hasanain Haikal Edisi pertama.

“Ali dariku dan aku dari Ali. Tiada siapa yang mewakili tugasku kecuali aku sendiri atau Ali ” Sunan lbnu Majah jil. 1 hal.44; Khasais Nasai hal. 20; Shahih Turmizi jil. 5 hal. 300; Jami’ Ushul Oleh Ibnu KAtsir jil. 9 hal. 471; Jami’ Shagir Oleh Suyuthi jil. 2 hal. 56 Riyadh; Nadhirah jil. 2 hal. 229.

“Engkau hai Ali, menjelaskan kepada ummatku apa yang mereka perselisihkan setelah ketiadaanku.” Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 448; Kunuz al-Haqaiq Oleh al-Maulawi hal. 203; Kanzul Ummal jil. 5 hal. 33.

(dari berbagai sumber) mevlanasufi.blogspot.com

Iklan

Satu Tanggapan to “Imam Husain (as) Penghulu Para Pemuda Surga. (Bag. II)”

  1. Atang Ibnu Abdullah Says:

    Bagi lah kalo ada buku – buku karangan ulama syiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: