Catatan Ruslan Abdullah Ohoimas: URGENSI STUDI FILSAFAT AKHLAK

Barangkali sebagian menduga bahwa membincangkan persoalan-persoalan rasional Filasafat Akhlak adalah upaya sia-sia, khususnya bagi kaum muslim yang percaya pada wahyu ilahi, sabda Nabi dan arahan-arahan para Imam yang suci. Tatakala mereka telah mengajarkan jalan hidup yang lurus dan akhlak mulia, untuk apa mempersoalkan isu-isu teiritis, rumit dan menjemukkan. bukankah tujuan hidup yang sesungguhnya adalah menghiasi diri dengan sifat-sifat mulia dan membersihkannya dari sifat-sifat terhina. Lalu apa untungnya membahas, mendefinisikan dan menganalisis konsep-konsep akhlak, melacak asal usus kemunculannya, memberdebatkan deklaratifitas atau imperatifitas statemen-statemen moral?

Kegemasan di atas pada batas-batas tertentu, sangat bisa diterima dan logis. Jelas bahwa kewajiban kita adalah melaksanakan ajaran-ajaran Islam, dan satu-satunya jalan keselematan dan kebahagian dunia dan akhirat adalah mengikuti arahan-arahannya. Juga jelas bahwa seindah-indahnya kajian rasional tidak akan mampu dengan sendirinya mempersembahkan akhlak mulia dan kebagaian hakiki. Yang perlu diingat disini adalah bahwa kaum muslim, sebagai pengikut akhlak quranik dan penyampai risalah Islam, harus mampu menjelaskan prinsip-rinsip dan dasar-dasar akhlak quranik itu secara sistematis dan rasional, dan mampu mempertahankannya di hadapan aliran-aliran moral yang beredar dan berkembang. Tentunya, peran ini menjadi mungkin terealisasi lewat pendalaman studi-studi atas isu-isu falsafat akhlak. Upaya melakukan klarifikasi dan pembenaran rasional atas dasar-dasar nilai akhlak islam menjadi sulit, jika tidak mengenal terlebih dahulu akan pandangan islam berkaitan dnegan isu-isu filsafat akhlak.

Demikian ini tidak hanya perlu bagi filsafat akhlak, tetapi juga bagi setiap isu-isu falsafi, teologis, sosial, ekonomi, menegemen, psikologi dan selainnya. Dalam persolan eskatologi misalnya, setiap pengikut agama meyakini bahwa manusia akan dibangkitkan kembali setelah kematiannya dan dipertanggungjawabkan kehidupan dunianya. Masalah besar ini menjadi nihil dan tidak berarti bagi kaum ateis, kecuali dengan melampirkan argumentasi rasional. Begitu pula dalam bidang ekonomi. Seorang ekonom muslim mampu menjelaskan sistem ekonomi Islam dan membuktian keunggulannnya atas sisitem-sistem lainnya secara ilmiah daan rasional. Jelas, hanya metodologi dan Analisa-analisa ilmiah dan rasiaonal yang bisa membantu mempertahannkan dasar-dasar ekonomi dan nilai-nilainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: