Asyura Menampilkan Dua Wajah Syiah Yang Berseberangan

oleh Quito R. Motinggo

“However, while rituals are performed regularly, values are either violated, neglected or practised mere symbolically.” ~ Asghar Ali Engineer

Ashgar Ali Engineer, seorang intelektual muslim India berkata, “Bagaimana pun, ketika ritrual-ritual agama ditampilkan atau dilakukan berulang-ulang, nilai-nilainya justru dilanggar dan diabaikan atau dipraktikkan SEBATAS simbol-simbol BELAKA.”. 1]

Tentu saja berbeda antara : SEKADAR menjalani ritual-ritual Syiah dengan MENJADI Syiah.

Ayah Imam al-Mahdi as, Imam Hasan al-Askari berkata, “Syiah Ali as. itu adalah orang-orang yang tidak takut mati syahid di jalan Allah, dan Syiah Ali itu adalah orang-orang yang mementingkan saudara-saudaranya atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri dalam keadaan sulit, mereka itulah orang-orang yang Allah tidak melihat mereka melanggar laranganNya dan mereka tiada mengabaikan perintah-perintahNya, dan Syiah Ali itu ialah orang-orang yang mengikuti jejak Imam Ali as di dalam memuliakan saudara-saudaranya yang beriman.” (Bihar al-Anwar Jil. 68, hal.162- 163)

Dari satu hadis ini saja betapa tinggi karakater Syiah atau pengikut Ali sejati itu. Dan dari sekian banyak hadis tentang karakter Syiah yang pernah saya baca, hampir seluruhnya menekankan Akhlak Mulia dan Ibadah yang luar biasa kuatnya.

Jika saya bercermin dengan satu hadis di atas ini saja, saya tidak berani lancang mengaku-aku sebagai Syiah.

Di dalam kitab Tanbih al-Khawatir diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Imam Hasan bin Ali as seraya berkata kepada Imam : “Sesungguhnya aku dari Syiahmu!” Imam Hasan bin Ali as justru menjawab : “Wahai hamba Allah! Jika engkau mengikuti perintah-perintah kami dan menjauhi larangan-larangan kami, maka benarlah pengakuanmu itu, namun jika engkau tidak seperti itu, maka tidak bertambah kemuliaanmu, melainkan justru bertamba dosamu atas pengakuanmu itu. Jangan kau berkata aku dari Syiahmu, tetapi katakanlah : “Saya orang yang mengikutimu, mencintaimu dan memusuhi musuh-musuhmu.” maka engkau berada di dalam kebaikan dan menuju kepada kebaikan.” (Tanbih al-Khawatir hal. 348)

‘Asyura, atau Tragedi Karbala JUGA menampilkan 2 wajah Syiah Husain yang keduanya saling berseberangan, yang pertama saya sebut sebagai Syiah Formal dan yang kedua Syiah Orisinal.

Pada masa keimamahan Imam Husain as, ada 12.000 sampai 18.000 orang di Kufah, dan ini mewakili Syiah Formal. 2]

Mereka adalah para senior Syiah, atau orang yang banyak mengetahui dan mengamalkan ajaran-ajaran Syiah secara detail atau formal. Mereka punya gaya hidup sendiri dan amal ibadah yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang.

Mereka inilah yang melayangkan surat pernyataan janji setia (bai’at) dengan semangat menggebu-gebu kepada Imam Husain as. Boleh jadi mereka juga menyatakan kesediaan mereka untuk mati syahid demi sang Imam.
Mereka datang berbondong-bondong untuk berbaiat kepada Muslim bin ‘Aqil yang ditunjuk sebagai wakil Imam Husain.

Namun, selang tidak berapa lama –- menurut sebuah riwayat tidak sampai seminggu -– mereka malah meninggalkan Muslim bin ‘Aqil seorang diri ketika pasukan Ubaidillah bin Ziyad datang ke Kufah.

Sekejap saja nyali mereka ciut begitu mendengar ancaman Ibn Ziyad yang akan membunuh isteri, anak-anak dan membumihanguskan tempat tinggal mereka. Janji setia mereka menguap bersama embun yang ditimpa cahya mentari.

Bahkan ketika Ibn Ziyad menjanjikan kepada mereka dengan impian-impian duniawi, maka semua yang pernah mereka nyatakan di dalam bai’at pupus dari ingatan mereka. Sampai-sampai ketika mereka dipaksa dan digiring ke Karbala untuk bergabung dengan pasukan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash segenap kesadaran insani mereka pun lenyap.

Karakter ini berbeda dan berseberangan dengan Syiah Orisinal. Ada 2 macam Syiah Orisinal. Yang pertama adalah orang-orang yang sama seniornya dengan orang-orang di Kufah. Perbedaannya, mereka ini senantiasa bersama Imam Husain kemana pun Imam pergi. Ada semacam bentuk cinta yang bisa diungkapkan dengan kata-kata : ”Saya tak bisa hidup jika sehari saja tak melihat Anda”.

Ungkapan seperti ini bukan ungkapan klise, karena ada beberapa sahabat Nabi yang apabila hati mereka sumpek mereka datang menemui Nabi Saw untuk sekadar melihat wajah sang Nabi yang mereka cintai. Mereka mengatakan kepada Rasulullah, “Kepenatan dan kesusahan yang ada dalam hati saya hilang sekejap ketika saya melihat Anda, wahai Rasulullah!”

Ketika orang-orang Kufah sedemikian takut apabila isteri, anak-anak dan harta mereka dimusnahkan pasukan Ibn Ziyad, sebaliknya orang-orang berwajah Syiah Orisinal pertama ini yang ketika Imam Husain meminta mereka meninggalkan Imam beserta keluarganya, mereka bahkan menolak. Sebenarnya, andai saja mereka meninggalkan Imam Husain, Imam pun akan memaafkan dan memaklumi mereka. Namun mereka justru berkata, “Kami tidak akan membiarkan Anda sendirian…dengan kata-kata apa kami sanggup meminta maaf kepada kakek (Rasulullah), ibu dan ayahmu….Andai pun kami terbunuh lalu dihidupkan kembali, maka kami akan tetap berperang hingga terbunuh lagi. Bahkan hingga 70 kali terbunuh pun kami takkan meninggalkan Anda, apalagi kenyataannya mati itu hanya sekali!” 3]

Mereka ini memang orang-orang yang dididik dengan karakter kuat Ahlul Bait Nabi. Berbeda dengan yang pertama, wajah Syiah Orisinal kedua justru bukanlah orang-orang Syiah pada awalnya. Mereka tidak sedikit pun mengerti ajaran-ajaran Syiah, apalagi ritual-ritualnya, akan tetapi mereka memiliki NILAI dan ESENSI Syiah yang sama kuatnya dengan yang pertama. Meminjam istilah Imam Ja’far as dan Zainab al-Kubra, “Mereka berasal dari tanah-tanah Ahlul Bait!” .

Syiah Orisinal kedua ini diwakili oleh Zuhair bin Al-Qain Al-Bajli, Al-Hurr bin Yazid ar-Riyahi dan seorang pastur Nashrani yang sempat meminjam kepala suci Imam Husain yang terpancang di ujung tombak untuk dibersihkan dan dimandikan.

Mengenai Zuhair bin Al-Qain Al-Bajli, pada mulanya ia seorang pengikut Utsmani yang fanatik, ia menganggap bahwa khalifah Utsman terbunuh dalam keadaan dizalimi. Ketika Imam Husain berangkat dari Makkah menuju Kufah, mereka membuntuti kafilah Imam Husain dengan sangat hati-hati.

Sampai di suatu tempat, Imam berkemah beserta keluarga dan pengikutnya, begitu pun Zuhair beserta keluarga dan sukunya berkemah tidak jauh dari tempat perkemahan Imam. Imam yang sejak awal mengetahui bahwa ia dibuntuti Zuhair, akhirnya mengundang Zuhair untuk makan malam bersama. Zuhair sempat terkejut, sementara isterinya yang notabene memang pencinta dan pengikut Ahlul Bait mendorongnya untuk menghadiri undangan istimewa tersebut.

Sebelum bertemu muka dengan wajah mulia sang cucu Nabi, tidak sedikit pun terbetik di dalam hatinya untuk turut berjihad membela Imam Husain. Tetapi begitu ia melihat wajah suci putra Fathimah yang tinggal satu-satunya ini, hatinya kepincut, seluruh jiwa raganya terbakar cinta yang luar biasa dahsyat.

Mungkin ia sendiri merasa heran, darimana munculnya energi gaib ini sehingga ia berkata kepada isterinya, ”Wahai isteriku, aku sekarang menceraikanmu, pulanglah, aku tidak ingin ada musibah yang menimpamu” 4]

Di Karbala, Zuhair syahid setelah membunuh 120 orang-orang musuh-musuh Imam Husain as. 5]

Ajaib! Inikah yang dikatakan hati yang langsung terbalik atau qallibal qulub? Begitu cepatnya kebencian berbalik menjadi cinta sebagaimana cinta berbalik menjadi benci! Ada pun mengenai al-Hurr, saya ingin memberikan sebuah pendahuluan mengenai 4 tipe manusia ditinjau dari kemerdekaan fisik dan spiritualnya.

Yang pertama adalah manusia yang tidak merdeka secara fisik maupun secara ruhani. Mungkin contoh yang paling tepat adalah berkenaan dengan seorang budak yang bernama Wahsyi. Ketika perang Uhud sedang berkecamuk, Wahsyi menerima tawaran Hindun, isteri Abu Sufyan, untuk mendapatkan kebebasan (fisik)-nya untuk membunuh manusia yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu, Hamzah bin Abdul Muthalib. Walau pun Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, paman Rasulullah dan mendapatkan kemerdekaan fisiknya, namun penyesalan yang mendalam membelenggunya sampai akhir hayatnya. Beberapa tahun kemudian, ketika Makkah akhirnya ditaklukkan kaum Muslim, penduduk Makkah mendapat amnesti umum. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wahsyi. Ia pun bersegera datang menemui Rasulullah saww. Rasulullah mengampuni Wahsyi, namun Rasulullah saww bersabda kepadanya, ”Jangan lagi engkau tampakkan wajahmu sejak hari ini!”

Jenis manusia yang kedua, adalah manusia yang fisiknya menjadi budak tetapi jiwanya merdeka dan yang ketiga sebaliknya. Contoh mengenai hal ini adalah Nabi Yusuf as dan Zulaikha, isteri majikannya.

Al-Qur’an mengatakan, “Dan wanita-wanita di kota berkata,“Istri Al Aziz menggoda pelayannya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada pelayannya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS Yusuf [12] ayat 30)

Imam Muhammad al-Baqir as menjelaskan ayat tersebut di atas, “Sungguh cintanya (Zulaikha) kepada Yusuf telah menutup (menghijab) pandangannya dari manusia sehingga akal pikirannya tidak berfungsi. Hijabnya itu adalah cintanya yang sangat mendalam kepada Yusuf dan cinta yang sangat mendalam itulah yang menghijab (menutupi) hatinya”. 6]

Zulaikha tak sadar telah menjadi budak dari cintanya yang semu itu. Betapa banyak orang yang secara fisik bebas merdeka tetapi jiwanya terbelenggu dan menjadi budak ego serta hawa nafsu. Sebaliknya banyak orang yang menjadi budak secara fisik tetapi jiwanya bebas dan merdeka, karena jiwanya terbebaskan dari perbudakan hasrat-hasrat rendah.

Di dalam al-Qur’an yang mulia, Nabi Yusuf as berkata, “Rabbis sijnu ahabbu ilayya mimma yad’uu nanii ilaihi – Tuhan…penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan (hawa nafsu) mereka kepadaku” (QS Yusuf [12] ayat 33)

Dengan kata lain Yusuf mengatakan, “Lebih baik aku dipenjara secara fisik ketimbang jiwaku terpenjara nafsu!” 7]

Bahaya terbesar di masa kita ini adalah kita cenderung memerhatikan serta membatasi kemerdekaan sebatas kemerdekaan fisik atau sosial politik, namun melupakan kemerdekaan jiwa dan spiritual. Padahal mengabaikan kemerdekaan spiritual mengakibatkan kemerdekaan fisik pun tidak dapat terpelihara.

Jenis manusia yang keempat adalah manusia yang merdeka baik fisik mau pun jiwanya. Dan contoh untuk jenis manusia keempat ini adalah al-Hurr.

Seperti Nabi Musa as, ketika belum diangkat menjadi seorang Rasul, beliau adalah putera mahkota Fir’aun, Raja Mesir, yang memperbudak bangsa Bani Israel yang merupakan ras Musa as sendiri. Musa as yang sejak kecil diangkat sebagai anak oleh Fir’aun memiliki jiwa yang merdeka.

Pembelaan beliau kepada Bani Israel bukanlah didasarkan kepada pola pikir rasialisme. Musa as membela Bani Israel semata-mata karena pembelaannya kepada keadilan dan kaum tertindas. Tanpa ragu Musa as menanggalkan segala atribut kebesaran dan kemewahan termasuk mahkota kepangeranannya demi menegakkan kebenaran dan memerdekakan kaum yang tertindas. Saat itulah Musa as memperoleh kemerdekaan yang paling sempurna.

Seperti Nabi Musa as, demi memperoleh kemerdekaan spiritual, al-Hurr juga rela menanggalkan atribut kepanglimaannya dan impian-impian duniawinya yang dijanjikan Ibn Ziyad kepadanya.

Ini bukan soal mudah! Tidak mudah menukar impian-impian personal kita dengan sebuah KEMATIAN! Hanya orang-orang luar biasa (extra ordinary people) saja yang mampu melakukannya.

Sama seperti seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah saww seraya berkata, “Kami telah beriman!”. Rasulullah Saw menolak pernyataannya seraya menghibur lelaki ini, “Orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang memiliki iman sekeras baja, mereka telah mampu berhijrah dari ego-ego personal mereka dan berjihad melumpuhkan musuh yang ada di dalam mau pun di luar dirinya. Akan tetapi jika Anda taat kepada Allah dan Rasul-Nya, itu sudah memadai” 8].

Sekali lagi tidak mudah menjadi orang Syiah sama tidak mudahnya menjadi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Kepada Nabi Musa as Allah SwT berfirman, “Wash thana’tuka linafsi! – Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku!” (QS 20 : 41)

Menjadi Syiah berarti menjadikan diri kita untuk menjadi manusia pilihan Tuhan. Bukankah ini berat?
Di hadapan jenazah al-Hurr, Imam Husain dengan penuh kasih mengusap wajahnya yang bersimbah darah seraya berkata, “Tidak salah ibumu menamaimu al-Hurr, sebab engkau merdeka (al-Hurr) di dunia dan di akhirat”

Al-Hurr syahid setelah berhasil membunuh 80 pasukan berkuda, prajurit-prajurit musuh takut mendekatinya. Umar bin Sa’ad memerintahkan pasukan pemanah untuk mengepung al-Hurr dari segala penjuru dan secara bersamaan melepaskan anak panah ke sekujur tubuh al-Hurr. Al-Hurr pun jatuh tersungkur dan syahid. 9]

Mampukah kita membebaskan diri kita dari belenggu-belenggu cinta diri dan cinta dunia seperti al-Hurr dan Zuhair? Yang menarik, menurut saya, kemungkinan besar keduanya tidak sempat melakukan amalan-amalan (ritual) Syiah seperti kaum Syiah di Kufah.

Ini berbeda dengan lelaki paling durjana, Syimr, karena sedemikian menginginkan harta dan kedudukan duniawi, dia rela menukarkan keyakinannya.

Kenalkah Anda dengan Syimr bin Dzi al-Jauysan? Sebagian orang mungkin tidak percaya bahwa Syimr pernah dengan setia turut serta berperang bersama Imam Ali as di pertempuran Jamal dan Shiffin, tapi catatan sejarah telah mencatat nama orang ini berada di pihak Imam Ali as. pada kedua pertempuran tersebut 10]

Anda juga tentu masih ingat bahwa di antara 12 ribu atau 18 ribu orang penduduk Kufah yang berbaiat kepada Imam Husain as ada seseorang yang bernama al-Mukhtar al-Tsaqafi, seorang Syiah yang sempat ber-taqiyyah – mengelak mengakui – di hadapan Ubaidillah ibn Ziyad, bahwa ia salah seorang pendukung Muslim bin Aqil. 11]

Terlepas dari Mukhtar yang akhirnya bertaubat dan membunuh para pembunuh Imam Husain as, namun harus diingat bahwa sebelumnya ia sempat terperosok ke lembah ‘pengkhianatan’. Memang bukan perkara mudah menjadi seorang Syiah Ali sebagaimana tidak mudah pula menjadi seorang yang beriman.

Jika al-Qur’an yang mulia mengatakan, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ”Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum kamu, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (shadaquu) dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta (al-kaadzibiin)!” (QS 29 : 2-3).

Maka di dalam sebuah hadits yang dicatat oleh ‘Allamah Baqir al-Majlisi (qs) di dalam kitabnya Bihar al-Anwar bahwa : Ketika para sahabat Imam Muhamad al-Baqir as sedang duduk bersama beliau, datanglah seorang lelaki seraya berkata kepada Imam al-Baqir as, “Demi Allah! Sesungguhnya aku mencintai kalian Ahlul Bait!” Imam as menjawab, “Jika demikian, kenakanlah musibah sebagai jubahmu! Demi Allah! Sesungguhnya cobaan (bala’) itu benar-benar lebih cepat datangnya kepada kami (Ahlul Bait) dan pengikut kami ketimbang meluncurnya air bah ke dasar lembah. Kamilah (Ahlul Bait) yang pertama kali yang akan ditimpa musibah baru kemudian kalian. Kamilah yang pertama kali memperoleh kesenangan hidup (di akhirat) baru kemudian kalian!” 12]

Dalam riwayat lainnya, Imam Ja’far al-Shadiq as menceritakan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib as, “Demi Allah! Sesungguhnya aku benar-benar mencintai Anda!” (Laki-laki ini mengatakannya 3 kali kepada Imam) Namun setelah itu Imam Ali as justru berkata kepadanya, “Demi Allah! Engkau tidak mencintaiku!”

Mendengar hal ini marahlah laki-laki ini seraya berujar, “Anda mengatakan demikian, demi Allah, seolah-olah Anda mengetahui apa yang ada di dalam hatiku!?” Imam Ali as menjawab, “Allah telah menciptakan ruh-ruh (arwah) sebelum badan-badan (ini) 1000 tahun namun tidak kulihat ruhmu di sana!” 13]

Dan penghulu para syuhada pun, Imam Husein as mengatakan, “(Kebanyakan) Manusia ini adalah hamba (budak) dunia, dan agama hanya menjadi buah bibir mereka. Mereka akan menjaganya selama agama mendatangkan manfaat bagi mereka. Tetapi apabila mereka diuji (akan terbukti) hanya sedikit orang-orang yang benar-benar beragama” 14]

Saya pernah mendengar dari Ustadz saya yang saya cintai, al-Ustadz Ahmad Rusydi Alaydrus (semoga Allah senantiasa merahmati dan menyayanginya) bahwa pada masa Revolusi Islam di Iran, seorang alim Syiah mati disiksa dengan lubang dikeningnya karena dibor (disiksa) oleh SAVAK, agen rahasia Shah Iran. Sebelum jenazah sang alim ini dimakamkan, Imam Khoimeini (qs) berkhotbah tentang sang alim ini hanya dengan beberapa patah kata, “Jika anda ingin tahu orang Syiah, saksikanlah bahwa dia inilah orang SYIAH!”

Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

_______________________

Salah satu tujuan tulisan ini adalah membantah para pembenci Syiah yang menyebarkan syiar jahat bahwa para pembunuh Imam Husain as adalah orang-orang Syiah sendiri. Padahal sesungguhnya mereka yang bergabung dengan pasukan Ibn Ziyad adalah Syiah-syiah Palsu, sebagaimana orang-orang Syiah di Iran yang melawan Kepemimpinan Sayyid Ali Khamenei. Mereka adalah Syiah-syiah Palsu!
________________________
Catatan Kaki

Tolong diperhatikan kata2 SEKADAR

1. Asghar Ali Engineer, Values, Not Rituals Are Essence Of Religion, sebuah artikel yang dibuatnya pada bulan Juni 2001 di Web Site : Progressif Dawoodi Bohras.
2. Imam Musa Shadr, Syuhada Padang Karbala, h. 76, Penerbit Mizan Februari 1996.
3. Muhsin Labib, Husain Sang Ksatria Langit, masih dalam draft sebelum dicetak dan diberi pengantar oleh almarhum Motinggo Busye, hal. 93.
4. Musa Shadr, ibid h. 39
5. Muhsin Labib, Ibid h. 101.
6. Tafsir Nur al-Tsaqalain 2 : 423.
7. Murtadha Muthahhari, Jejak Jejak Ruhani, hal. 20, Penerbit Pustaka Hidayah
8. QS 49 : 15-16
9. Musa Shadr, ibid h. 147.
10. Al-Khatib Syekh Abdul Wahab Al-Kasyi, Asyura Dalam Perspektif Islam, h. 126, Penerbit Yayasan Islam al-Baqir, Cet. I , Januari 1996.
11. Muhsin Labib, ibid h. 46
12. ‘Allamah Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 46 : 360, Jami’ al-Ahadits.
13. Ibid, Bihar al-Anwar 61 : 132.
14. Tuhaf al-’Uqul hal. 245

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: