Penerapan Cinta dalam keseharian

Jika kita telah merasakan cinta yang sedemikian dalam merasuk dalam jiwa dan sanubari yang terletak jauh di dalam hati kita. Sedikitpun kerikil yang mengganggu perjalanan menuju kesempurnaan cinta itu akan menjadi sangat menyakitkan. Cinta ialah perasaan yang sangat sensitif dan rapuh. Untuk menggapai kesempurnaan dimana sebuah cinta itu tak akan pernah goyah dan tetap teguh terpatri ialah dengan berusaha melewati setiap cobaan dan dera yang menghalang rintangi setiap lika – liku perjalanannya. Cinta mengharuskan pengorbanan didalamnya, loyalitas, dan kesungguhan. Cinta dapat dengan seketika berubah menjadi benci jika sebuah kesalah pahaman telah terjadi, namun rasa benci itu akan seketika itu pula hilang dengan kuatnya keinginan untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan cinta. Untuk mendapatkan kebahagiaan seseorang harus menghilangkan kesedihan di dalam hatinya, namun untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain, seseorang harus menghindari sesuatu yang menimbulkan kesedihan padanya. Karena kesedihanlah yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan. Perjalanan menuju kesempurnaan cinta sangatlah panjang dan berliku. Didalamnya terdapat banyak sekali aral melintang, kerikil tajam yang menghampar, tembok besar yang menghadang dan angin kencang yang menghalau, namun kesemua halangan itu akan menambahkan kualitas kenikmatan saat berhasil meraih dan menggapai indahnya kesempurnaan cinta sejati.
Dua orang musafir beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang di tepi sebuah desa, sambil mengeringkan peluh dan mendinginkan tubuh selepas perjalanan mereka di tengah cuaca yang panas, mereka melamun dan membayangkan hal yang indah – indah sampai salah seorang diantara mereka berdua berkata, “Jika aku berhasil memenangkan undian, akan aku gunakan hadiahnya yang lima ratus juta itu untuk membuka sebuah usaha, usaha bengkel, dengan keahlianku memperbaiki kendaraan aku akan memuaskan setiap pelanggan yang mampir mempercayakan kondisi kendaraannya pada montir – montir bawahanku, akan aku siapkan beberapa drum minyak pelumas dan barang – barang lain yang biasa dijual di bengkel – bengkel agar penghasilanku tidak hanya berasal dari memperbaiki dan cek kondisi kendaraan tapi juga dengan berjualan perlengkapan dan keperluan kendaraan itu sendiri. Siapa sangka aku yang hanya seorang pengelana tanpa tujuan ini akhirnya jadi seorang pengusaha bengkel yang hebat.” Mendengar cerita temannya seorang yang lain memberi pendapatnya sendiri, “ Sebaiknya jika kau menangkan undian itu uangnya kamu gunakan untuk membuka sebuah toko sembako saja, sisanya kamu gunakan untuk berangkat haji, dan melamar kekasihmu di kampung yang selalu kau rindukan dan sebut – sebut dalam mimpimu itu. Toh dengan itu selesailah urusan duniamu dan akhiratmu, kamu telah memiliki penghasilan dari tokomu, kamu telah memberangkatkan dirimu ke tanah suci, dan telah memiliki seorang istri sebagai pendamping hidupmu. Apalagi yang kau cari dalam kehidupan di dunia ini? Apa kamu ingin menjadi seseorang yang terus haus akan kehidupan dunia dengan impianmu menjadi orang yang hebat itu?” sedikit tidak menerima pendapat temannya itu musafir pertama kembali menanggapi, “Tidak, bukan begitu.. sebenarnya aku ingin melaksanakan rencana indahmu itu, namun yang aku mengerti hanyalah memperbaiki kendaraan karena aku besar di kalangan itu, kehidupan bengkel telah mendarah daging dan terpatri di dalam pikiranku, jika aku akan membuka sebuah usaha pasti aku akan membuka sebuah bengkel, tidak yang lain. Dan uang lima ratus juta itu pun nampaknya masih kurang untuk membuka sebuah bengkel seperti yang kuinginkan.” Musafir kedua kembali memberi nasihatnya,”Apa kamu yakin usaha itu akan member faedah yang baik dan bermanfaat bagimu? Akan menjamin kehidupanmu? Bagaimana jika akhirnya usaha itu berbuah kegagalan? Kamu kehilangan kesempatan untuk pergi haji dan meminang kekasihmu?” Merasa terdesak, akhirnya dengan sedikit emosi Musafir pertama pun menjawab, “Aku punya perhitungan sendiri mengenai masa depanku, tak perlu kau beri aku nasihat – nasihatmu, lihatlah dirimu sendiri saat ini masih terduduk disini bersamaku, berpeluh, memakai pakaian yang sama kotornya denganku, dan bahkan tak mampu membeli sekedar minuman penghilang dahaga untuk dirimu sendiri.” Merasa tersinggung dengan perkataan musafir pertama, musafir yang kedua ikut terpancing emosi seraya berdiri dengan lantangnya berkata, “Aku hanya memberi tahu apa yang baik untukmu, tak pernah kusinggung – singgung mengenai diriku didalamnya, atau aku mengharapkan keuntungan dari usaha yang akan kau jalankan. Jika kamu memang tidak ingin menerima pendapatku ya silahkan, tapi jangan pernah kau singgung mengenai hidupku, aku seperti ini karena aku tak ingin menjadi seperti mereka orang – orang kaya yang sombong dengan kekayaannya, mereka petantang – petenteng dengan pakaian mahal mereka dan menarik keatas dagu mereka ketika berjalan. Mengalihkan pandangannya dan selalu berpendapat bahwa kita ini orang yang malas, hidup dari belas kasih orang lain, padahal didalam kekayaan mereka, tersimpan hak yang terenggut dari kita.” Musafir pertama dengan cepatnya menyanggah, “Begitu? Jadi jika aku akhirnya menjadi kaya kau pun akan berpikiran yang sama seperti itu terhadapku? Sesungguhnya kamu hanya dengki dengan kekayaan dan keberhasilanku, aku telah berhasil membuka bengkel yang hebat dan ternama dengan bermodalkan hadiah undian sementara kamu masih disini, kamu khawatir aku tak akan membagi kekayaanku denganmu? Ya, karena aku muak denganmu. Selalu berlagak sok suci didepanku. Apapun salah dihadapanmu, selalu saja kau yang benar dan segala hal yang bertentangan dengan pikiranmu itu salah, sesungguhnya kamu itu orang yang picik dan egois, jika begitu hidup sajalah kau di hutan ditemani monyet – monyet dan sejenismu, tak butuh aku dengan kehadiranmu jika fungsimu bersamaku hanya sebagai pengkhotbah belaka. Perkataan besarmu tidak sesuai dengan kenyataan yang kamu perbuat. Toh ternyata kamu masih saja hidup seperti ini. Lalu apa fungsi nasihat – nasihatmu itu bagi dirimu sendiri?” Musafir kedua sudah merasa cukup dengan semua penghinaan yang dia rasakan, akhirnya dia pun melayangkan tinjunya yang telak ke rahang temannya itu. Musafir pertama yang tak sempat mengelak itu pun jatuh tersungkur, lalu dengan tak mengambil rehat panjang langsung bangkit dan menerjang musafir kedua. Pergumulan baku hantam antara kedua teman seperjalanan itupun berlangsung seru namun tak lama karena beberapa penduduk desa menyaksikan perkelhian itu dan langsung melerai, salah seorang penduduk yang dituakan bertanya pada keduanya pokok permasalahan yang menyebabkan perpecahan diantara mereka. Musafir pertama menjawab, “Dia dengki padaku karena aku berhasil memenangkan undian limaratus juta dan hendak membuka sebuah bengkel dengan uang hasil undian tersebut.” Dengan cepat musafir kedua pun menyanggah, “Bohong! Tak pernah aku punya pikiran dengki, aku hanya ingin member saran yang terbaik baginya karena aku anggap dia sebagai sahabatku, tak ingin aku melihat sahabatku terpuruk dalam kegagalan padahal baru saja dia menerima keberhasilan.” Musafir pertama menjawab kembali, “Sudah kubilang, tak butuh aku dengan segala ocehanmu itu.” Mendengar perselisihan diantara keduanya itu Tetua penduduk penasaran dan berkata, “Ya sudah kalau dia tak ingin diberi tahu, tak usah kau beri tahu dia, biarkan dia menikmati hadiahnya, buah hasil undiannya. Memangnya berapa hasil undian tersebut?” “Limaratus juta!” keduanya serentak menjawab. “Hebat! Selamat, memangnya dimana kamu menangkan undian itu, kok saya tidak pernah mendengar ada undian semacam itu?” Tanya sang Tetua. “Eeh.. sebenarnya undian itu saya baru saja membayangkannya Pak, hanya lamunan saya tadi sewaktu beristirahat.” Ucap Musafir pertama dengan anggukan Musafir kedua. “Jadi semua perkelahian kalian ini hanya bermula karena sebuah mimpi di siang bolong? Sialan!”
Dari cerita singkat diatas kita dapat mengambil sebuah pesan penting dimana ikatan diantara dua individu dapat menjadi sangat rapuh hingga terganggu hanya karena sebuah impian. Musafir pertama yang hanya ingin mendengarkan pendapatnya sendiri tanpa menghiraukan pendapat orang lain dan musafir kedua yang selalu ingin pendapatnya didengar orang lain. Dia senang memberi nasihat kepada orang lain yang tidak pernah ia terapkan pada dirinya sendiri. Akhirnya karena sebuah bayangan dalam mimpi pun menyebabkan perkelahian diantara mereka. Hubungan cinta yang mengikat antara dua orang sahabat seperti di atas ternodai atas dasar ego masing – masing yang ingin memasukkan pengaruhnya atas diri orang lain. Dalam setiap hubungan dan ikatan diantara makhluk memiliki cinta yang mempersatukannya. Baik itu hubungan antara orang tua dan anaknya, suami dan istri, saudara, sahabat, teman, dan lainnya. Mereka disatukan atas dasar sebuah kepentingan saling membutuhkan satu sama lain. Dibutuhkan sikap saling mengerti, memahami, dan mempercayai untuk membina sebuah hubungan yang baik dan senantiasa terjaga. Pada dasarnya seseorang selalu ingin agar yang dicintainya itu bahagia, oleh karena itu ia akan selalu berusaha dengan berbagai cara untuk membahagiakan yang dicintainya. Namun terkadang cara dan jalan yang diambil tidak sesuai dan malah menimbulkan kerugian bagi dirinya dan yang dicintainya. Oleh karena itu seseorang harus pandai mengukur diri dan mempelajari segala hal yang penting dari yang dicintainya.

Sumber,
“Memahami Cinta” – Alfan Arrasuli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: