Wanita itu Cinta

Burayd al-Ijli mengatakan, “Saya ada bersama Imam Muhammad al-Baqir as, dan di sana hadir juga seorang musafir dari Khurasan yang telah menempuh perjalanan jauh itu dengan jalan kaki. Ia beroleh kehormatan untuk bertemu dengan Imam itu. Sepatunya yang berlubang – lubang, sehingga bagian – bagian kakinya yang luka Nampak menonjol, telah ditanggalkannya. Dia berkata, “Wallahi, satu – satunya yang membawa saya dari sana ke sini adalah cinta kepada Anda, Ahlulbait.” Imam berkata, “Demi Allah, andai sebungkah batu mencintai kami, Allah akan mempersatukan dan menggabungkannya dengan kami, Apakah agama bukan cinta?” (Safinant ul-Bihar, I. hlm 102). Seseorang berkata kepada Imam Ja’far as-Shadiq, “Kami telah memberi nama anak kami menuruti nama Anda dan para leluhur Anda; apakah perbuatan ini memberi faedah pada kami? Imam berkata, “Tentu, Demi Allah, apakah agama bukan cinta? Lalu beliau mengucapkan ayat, “Jika kamu (benar – benar ) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengisi dan mengampuni dosa – dosamu,” sebagai nashnya. (Safinant ul-Bihar, hlm 662) Pada dasarnya, Cinta yang membawa pada ketaatan. Imam Ja’far as-Shadiq as berkata, “Membangkang kepada Allah sambil mengaku bahwa engkau mencintai-Nya? Demi hidupku, ini ajaib! Apabila cintamu sejati, pasti engkau akan mematuhi-Nya, karena pecinta patuh pada yang dicintainya.”
Salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt yang paling nyata dan mudah terlihat di dunia kepada seluruh manusia ialah diciptakannya wanita. Bahkan ia tidak diturunkan khusus bagi kaum tertentu. Mengapa wanita ialah makhluk ciptaan Allah yang mulia? Karena Allah telah menitipkan ciptaannya dalam Asmaul Husna. Ar Rahim, yang dititipkan pada wanita. Dari rahim wanitalah dilahirkan manusia – manusia yang terlahir suci. Apa Allah tidak mampu menciptakan manusia secara langsung? Tentu mampu, namun Allah mempercayakan manusia itu untuk dilahirkan oleh seorang wanita. Oleh seorang Ibu, manusia – manusia dibesarkan dan dibentuk karakternya, dididik tentang kehidupan, agar siap menjalani beratnya pencarian. Mengapa Allah memperintahkan wanita untuk menutupi aurat tubuhnya? Karena Allah telah menitipkan Asmaul Husna kepadanya, sesuatu yang oleh kaum pria adalah sangat sulit untuk dicapai. Namun dititipkan langsung kepada wanita. Oleh karena itulah Allah memerintahkan kaum wanita untuk menjaganya dari dirinya sendiri maupun dari selainnya. Apa wanita itu menjaga amanatnya, atau merelakan amanat itu direndahkan, atau malah dengan sukarela merendahkannya sendiri. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Wanita mampu menarik perhatianmu dan nafsumu meskipun ia hanya lewat di depanmu, bila engkau tidak dapat melihatnya, cukup dengan engkau mendengar suaranya, jika engkau tidak dapat mendengarnya, cukup dengan engkau menghirup aroma tubuhnya, jika engkau tidak menghirupnya, cukup dengan engkau mengetahui namanya.” Allah Swt justru telah memuliakan wanita dengan memerintahkan mereka menutupi auratnya (berhijab). Dengan itulah Allah Swt menilai wanita mana yang telah menjaga amanat Allah Swt dalam dirinya. Dan mana yang malah merendahkan amanat tersebut. Apa kita tidak pernah sadar? Yang dicari setiap manusia dari antara Pria dan Wanita adalah kasih sayang tersebut? Cinta tersebut? Alkisah, Qais disebut Majnun(Gila) karena mencintai Layla. Suatu hari ia pernah menyamar dengan kulit domba dan berbaur diantara domba – domba Layla hanya agar bisa lebih dekat dengan Layla. Cerita lainnya, Suatu hari Layla dan Ibunya membuat suatu perjamuan di rumahnya, orang – orang duduk berkumpul dan Layla mengisi piring mereka satu persatu dengan hidangan. Tibalah kepada Majnun yang telah lama menunggu dengan piring ditangannya. Melihat Majnun, Layla merebut piring ditangan Majnun dan menghempaskannya ke tanah hingga pecah berantakkan. Melihat sikap Layla, Mata Majnun semakin berbinar menatap Layla. Semakin besar cintanya kepada Layla.. Majnun ialah anak dari seorang saudagar terpandang, mendengar cerita tersebut Raja Harun heran dan penasaran, bagaimana rupa Layla hingga Majnun tergelepak – gelepak dibuatnya. Dipanggillah Majnun dan Layla menghadap sang Raja. Setelah bertemu Layla. Seketika itu pula Raja tergelepak – gelepak melihatnya. Bukan karena takjub akan kecantikannya, tidak. Ternyata Layla adalah putri seorang budak. Kulitnya lebih hitam dibanding selembar kain berwarna serupa yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Raja sangat terkejut, bukankah wanita – wanita Persia itu cantik – cantik dan kulitnya seputih susu. “Mengapa kau dapat jatuh cinta kepadanya Hai Majnun?” Tanya Raja kepada Majnun. Mendengar pertanyaan Rajanya Majnun langsung menjawab, “Wahai Raja, bukan kecantikan yang membuat diriku jatuh pada kecintaan kepada Layla. Namun, ketika melihatnya aku selalu teringat akan Tuhan.”

“Manusia dan Hidupnya” – AA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: