Musyawarah Burung, Jebakan Setan dan Kesucian

Dalam Manthiq al-Thayr, Fariddudin Attar bercerita: Alkisah, sekumpulan burung berkumpul. Mereka bercerita tentang perjalanan yang sudah mereka lewati, tentang kehidupan, tentang pengalaman, tentang suka dan duka mereka. Sampailah mereka pada kesimpulan, bahwa setiap kenikmatan itu ada batasnya. Setiap sesuatu itu ada ujungnya. Mulailah mereka mencari kebahagiaan yang tiada bandingannya. Menurut mereka, kebahagiaan adalah berada di samping raja para burung. Mereka pun berkumpul. Burung dari berbagai belahan bumi dari bermacam keluarga berada di tempat yang sama. Mulailah mereka bertanya-tanya. Kepada Hud-Hud kemudian mereka berpaling. Inilah, kata mereka, burung yang menyertai Nabi Sulaiman as, yang tinggal di taman-taman para sufi. Hud-hudlah yang tahu jawabannya. Hud-hud pun berkata, “Sungguh, raja kalian ada di balik bukit Kaf. Namanya Simurgh. Tetapi perjalanan menujunya harus melewati tujuh lembah dan tujuh bukit.
Burung-burung bersuka cita. Mereka temukan dambaannya. Mereka temukan dambaannya. Mereka meminta agar Hud-hud membimbing mereka di perjalanan. Berangkatlah mereka. Di setiap langkah, seekor burung menyatakan keberatan dan keengganannya. Di setiap lembah, di setiap bukit, ratusan burung berguguran. Sebagian merasa sudah cukup dengan kelopak mawar yang mereka lihat setiap pagi , sebagian lagi sudah bahagia dengan desir angin yang lewat di telinganya, sebagian lagi karena alasan yang satu dan lainnya. Hud-hud menjawab setiap keberatan itu satu demi satu.
Hingga sampailah mereka setelah melewati tujuh lembah dan tujuh bukit. Tinggal 30 ekor burung lagi yang tersisa. 30 burung dalam bahasa Persia berarti si murgh. Yang mereka temukan tak lain adalah diri mereka sendiri.
Kisah yang mirip dengan Unio Mystica dalam lakon pewayangan Bima ini menggambarkan makna ‘man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu.’ Pada ujung pencarian akan kita temukan cerminan jiwa. Pembahasan tentang ini insya Allah secara ringkas diceritakan berikutnya.
Pada tahap ini, saya ingin membahas tentang sekian ribu burung yang berguguran di tengah jalan. Seperti burung-burung itu, ada sekian banyak gangguan yang menghalangi kita dalam perjalanan menuju Tuhan. Ustad Jalal mengistilahkannya dengan mengatakan “para perompak di jalan Tuhan.” Merekalah yang merompak kebahagiaan kita dalam berjuang. Merekalah yang merenggut perhatian kita dari jalan kesucian.
Bahkan terkadang, dalam kedok kesucian itu sendiri. Setan memang tak henti-henti mengalihkan kita dari tujuan yang hakiki.
Ada banyak gangguan-gangguan itu, Setakat ini, saya merujuk pada Ibn Qayyim al-Jawziyyah, dalam Madarij al-Salikin sebagaimana tertulis dalam Islam Aktual. Menurut Ibn Qayyim, setan menjebak manusia secara bertahap. Ia memperhitungkan jenis manusia yang dihadapinya. Mula-mula, ia menggunakan strategi yang paling kasar, lalu berlanjut pada trik yang lebih halus. Mungkin ada banyak juga manusia yang sebetulnya tidak harus digoda oleh setan, melangkah ke dalam keterjerumusan karena ulah mereka sendiri. Setan tidak perlu bersusah payah, apalagi sampai mengeluarkan jurus pamungkas. Kelompok manusia seperti ini sudah ‘gendeng saduruning winarah.’ Jurus pamungkas hanya dijalankan setan dalam menghadapi orang-orang saleh, orang yang kadar imannya sudah tinggi.
Menurut Ibn Qayyim, ada tujuh strategi setan. Pertama, iblis menawarkan kekufuran, mengajak orang untuk menolak agama, eksistensi Tuhan, risalah para rasul, dan kebenaran kitab suci. Agama dijadikan sebagai keterbelakangan, dan agnotisme dianggap sebagai pertanda kemajuan. Bukankah bangsa-bangsa yang maju dan modern tidak peduli dengan agama? Manusia modern adalah manusia yang rasional, sekular, dan individual; sedangkan agama menyebabkan manusia irasional, dogmatis, dan diperbudak. “Tuhan sudah mati!” kata Nietzsche filusuf Jerman. Agama adalah neurosis universal, kata Freud. Akhirnya, agama tak lebih dari sekedar candu yang diberikan oleh kaum berjois untuk meninabobokan kaum proletar, kata Karl Marx.
Itu jebakan setan yang pertama. Di tahap ini ada yang jatuh, ada yang tak bergeming. Pada tahap ini mungkin digoncangkan keyakinan kita (meskipun memang harus). Kita mempertanyakan kerasulan, kema’shuman, Al-Qur’an dan sebagainya. Ini jebakan yang paling elementer.
Bila jebakan pertama gagal, Iblis merancang jebakan kedua: kita tetap beragama tapi kepada kita ditawarkan bid’ah. Dalam definisi Ibn Qayyim, bid’ah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Saw, baik dalam ibadat maupun diluar ibadat. Nabi menghormati perbedaan pendapat sunnah. Tapi bila kita memutlakkan pendapat kita dan mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan kita, ini baru bid’ah. Nabi sangat menghormati dan berkhidmat pada istri-istrinya. Kalau kita menyakiti dan memperbudak istri kita, itu baru bid’ah. Nabi mengajarkan sifat amanah. Kalau kita curang dalam bisnis kita, kita melakukan bid’ah. Nabi memuji para pencari ilmu. Bila kita malas belajar dan mengaji, kita juga terjerumus kedalam jebakan setan yang kedua.
Bila kita berhasil menolak semua bid’ah itu, iblis menjebak kita dengan jebakan yang ketiga, yaitu lewat dosa-dosa besar, al-kaba’ir min al-dzanb. Manusia ditawari korupsi, zina, merampas hak orang, atau durhaka. Iblis akan menyebutkannya dengan istilah yang berbeda. Korupsi akan disebut sebagai keterampilan mengatur angka; zina dengan pergaulan masa kini, merampok sebagai membantu rakyat kecil, dan durhaka dengan “nasihat” anak terhadap orangtua. Biasanya dosa-dosa besar ini diajarkan dengan berangsur-angsur pula. Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang mendekatinya. Manusia mula-mula disuguhi kenyamanan berduaan dengan bukan muhrim, kemudian sentuhan-sentuhan kecil, lalu mencari tempat sepi dan seterusnya.
Katakanlah kita semua tidak mau melakukan dosa besar. Maka iblis datang dengan jebakan keempat: menawarkan dosa-dosa kecil. Dengan halus, ia berkata: berbuat dosa itu manusiawi. Kita malaikat namanya bila tidak pernah berbuat dosa. Lagipula, bukankah Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang? Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil selama kita meninggalkan dosa-dosa besar. Yang dilupakan oleh iblis dan orang-orang yang rawan iblis adalah sabda Nabi Saw, “Jangan meremehkan dosa, karena dosa kecil akan menjadi besar bila orang menghimpunnya.” Imam Ali as berkata: Dosa yang paling besar adalah dosa yang dipandang kecil oleh pelakunya, man istakhaffa bihi shahibuhu. Dalam riwayat yang lain, Imam bersabda, “Jangan kau lihat kecilnya dosa yang kaulakukan, tapi lihatlah, perintah Siapa yang kau tentang?.”
Jebakan kelima dirancang iblis bila kita juga berhasil menghindarkan dosa-dosa kecil. Iblis dan bala tentaranya akan menyibukkan kita dengan hal-hal
yang mubah sehingga kita melalaikan kewajiban kita. Berolahraga itu dianjurkan, tetapi bila berolah raga membuat kita melupakan kewajiban kita, kita jatuh pada jebakan iblis. Ayah dan Ibu yang aktif di luar rumah sehingga rumah tangganya terlantar, atau para pelajar yang sibuk bermain dan meninggalkan tugas utama mereka.
Jebakan keenam lebih canggih lagi. Iblis akan menawarkan kepada kita dengan ibadah yang utama, supaya kita lupa dan melalaikan ibadah lain yang jauh lebih utama. Sepertinya sulit. Misalnya, berzikir itu utama. Bila kita sibuk berzikir, membersihkan diri, atau tafakur di masjid, tapi kita mengabaikan masalah-masalah sosial, maka kita melupakan hal yang lebih utama. Kita jatuh pada jebakan ini ketika kita meributkan perbedaan kecil dalam ibadat, dan melupakan penderitaan kaum muslimin di berbagai penjuru bumi. Kita juga jatuh dalam jebakan ini bila kita mengeraskan talqin kita hingga mengganggu dan menyakiti orang lain.
Jebakan terakhir adalah yang paling canggih. Jebakan ini khusus untuk orang-orang takwa. Iblis akan mengerahkan seluruh balatentaranya-jin dan manusia- untuk menyakitinya. Orang shaleh ini kan difitnah, dicaci maki, diganggu dengan lisan dan tindakan. Kebenaran ajarannya akan disebut dusta, kebersihan pribadinya akan dianggap skandal, dan nasihatnya akan diperlakukan sebagai sesuatu yang harus diwaspadai, subversif, atau meresahkan masyarakat.
Ibn Qayyim mengingatkan kita semua pada firman Allah: ‘Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu turuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan kesalahan, dan kalau tiada kemurahan Allah dan kasih sayang-Nya kepadamu, maka untuk selamanya tidak ada seorang pun di antara kamu yang bersih (suci), tetapi Allah mensucikan orang-orang yang disukainya, dan Allah itu Maha Mendengar dan Mengetahui (QS. 24:21).
Selain Ibn Qayyim, para sufi juga mendaftar sifat-sifat yang mampu menggoyahkan kita dalam perjalanan panjang itu: yang paling berat adalah sifat ketika kita merasa cukup, tenang, tenteram, seolah-olah muthma’innah. Padahal Al-Qur’an mengatakan: ‘Apakah kamu merasa akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana yang ditimpakan kepada umat sebelum kamu. Datang kepada mereka musibat dan mereka digoncangkan, sehingga mereka bertanya, mata nashrullah. Sungguh pertolongan Tuhan itu sangat dekat.

“Makalah Training Tasawuf” Ust. Miftah Fauzi Rakhmat MA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: