Membumikan Cinta

Cinta, ya satu kata yang sanggup mengubah dunia. Hidup yang sepi bisa menjadi berwarna karenanya, hati yang gundah gulana berubah riang gembira olehnya, juga, segala rintangan dan cobaan hidup mendadak sirna tak berbekas jika dihadapi atas namanya. Sudah banyak lagu digubah, puisi ditulis, dan kanvas dilukis untuk menggambarkan arti cinta. Akan tetapi, apakah cinta itu sebenarnya? Tentunya seorang pelukis akan berbeda dengan seorang pencipta lagu dalam mendefinisikan cinta. Bahkan tiap orang tentu mempunyai pandangan yang berbeda dalam menjelaskan arti cinta.

Lalu, apa sebenarnya makna cinta? Benarkah cinta hanyalah sepenggal kata namun mengundang sejuta makna? Atau seperti gambaran para filosof bahwa makna cinta adalah tergantung siapa yang memandangnya, dan dari mana ia memandang? Tepat sekali seperti yang digambarkan Ibnu Qayyim tentang cinta, bahwasanya “Tidak ada batasan tentang cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri”. Secara bahasa, kata cinta itu sendiri berarti kecenderungan atau keberpihakan. Bertolak dari sini cinta dapat didefinisikan sebagai sebuah gejolak jiwa dimana hati mempunyai kecenderungan yang kuat terhadap apa yang disenanginya sehingga membuat untuk tetap menginginkannya, menyebut namanya, rela berkorban atasnya dan bersedia menerima dengan apa adanya walaupun kurang sekalipun, dan ia tumpahkan dengan kata-kata dan perbuatan.

Berangkat dari definisi diatas, kata cinta bisa juga dihubungkan dengan hal-hal yang lain dan tak melulu identik dengan hubungan antara sepasang insan berlainan jenis yang saling tertarik dan dilanda perasaan kasih sayang antara sesamanya. Hubungan antara orang tua dan anak, antar sesama manusia dan antara manusia dengan alam bisa juga dilandasi perasaan cinta. Selain itu, cinta bisa juga dikaitkan dengan cinta ilmu, cinta amal, cinta pekerjaan, atau cinta pada keindahan.

Cinta adalah anugerah Tuhan yang indah kepada manusia. Konon, dari berbagai macam makhluk-Nya, hanya manusia saja yang dikaruniai anugerah berupa perasaan cinta. Sejak dalam kandungan, kita telah diajarkan cinta oleh Tuhan melalui ibu kita. Pun juga ketika kita menghirup udara dunia untuk pertama kalinya, Ibu juga mengajari kita arti cinta. Belaian, sentuhan, dan dekapan sayang Ibu adalah wujud pengajaran cinta pada kita. Menginjak balita pengajaran akan cinta bertambah dengan kehadiran ayah, saudara, paman, bibi, kakek, yang bergantian mengajarkan cinta. Semakin bertambah umur kita, maka semakin banyaklah yang akan mengajari kita tentang cinta. Dan dari pelbagai macam cinta itulah, kita hidup.

Pelajaran cinta yang secara tidak langsung sudah diajarkan kepada kita sedari kecil, adalah modal berharga bagi kita sebagai manusia untuk mengambil dan menjadikannya ruh, dalam setiap aktivitas. Dengan ‘dirasuki’ ruh cinta itulah, perbuatan dan keseharian kita dapat terjaga dari hal-hal yang buruk. Karena berbuat dengan dasar cinta mampu mengubah dan menjadikan dunia penuh dengan kedamaian. Kita bayangkan betapa bahagianya kita apabila setiap gerak, nafas, dan degup jantung kita berjalan atas nama cinta. Bukankah setiap amal perbuatan yang didasari cinta kelak sanggup mengubah dunia, terlebih cinta kepada Sang Raja Cinta.

Seperti Rasulullah yang berjuang atas dasar cintanya kepada Tuhannya, sanggup mengubah dunia yang mulanya penuh dengan kecurigaan dan kebencian menjadi dunia yang berasaskan cinta dan perdamaian. Pun juga para sahabat yang berjuang bersama Rasul, atas dasar cintanya kepada Beliau. Di abad modern, dapat kita lihat Mahatma Gandhi berjuang demi rasa cintanya kepada rakyatnya, akhirnya dapat mengusir kolonial Inggris dari negerinya, India. Salah satu keajaiban dunia, Taj mahal dibangun oleh Syah Jahan atas nama cintanya kepada permaisuri yang sangat dicintainya, Mumtaz Mahal. Atau pernahkah anda mengunjungi candi prambanan? Konon komplek bangunan megah yang berjumlah seribu buah candi itu dibangun Arya Penangsang sebagai perwujudan rasa cintanya kepada ratu Roro Jongrrang. Berdirinya negara kita Indonesia, tak lepas dari wujud rasa cinta para founding father yang tak rela melihat rakyatnya sengsara akibat penindasan Belanda.

“Dengan cinta kita sanggup mengubah dunia”. Agaknya adagium tadi ada benarnya sebab dengan berasaskan cinta yang tulus, segenap halangan dan rintangan tidak akan sanggup menghalangi setiap perbuatan yang dilandasi cinta. Seperti seorang pemuda yang tak mempedulikan segala rintangan, apapun akan ia lakukan asalkan bisa mendapatkan gadis pujaan hatinya. Pun demikian halnya apabila kita mendasarkan segala perbuatan kita atas nama cinta, segala ujian akan dapat kita lewati dengan mudahnya dan niscaya tujuan dan harapan dapat dengan mudah kita gapai. Akan lebih indah lagi, jika semua perbuatan kita yang penuh cinta bertujuan untuk menggapai cinta dari Sang Raja Cinta. Wallahu a’alam bishowaab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: