RAKYAT MENGGUGAT KEDAULATAN NEGARA

Prolog: ini ditulis bukan untuk mengarahkan pembaca untuk bertindak anarkis dalam menyikapi sikon politik saat ini. Tetapi untuk Mengajak kita semua berpikir cerdas dan ilmiah/idealis dan jika memang dianggap perlu, melakukan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik, intelek, ilmiah dan lebih bermoral.

———— —

Dua seremonial kenegaraan sudah kita lalui. Pemilu dan pilpres sudah dilaksanakan. Yang tertinggal hanya tuntutan rakyat atas janji-janji kampanye persuatif para kandidat, serta sisa-sisa konflik yang terjadi antar parpol dan massa pendukung. Terlepas dari apakah prosesi pemilu dan pilpres (pesta rakyat) itu sukses atau tidak, konstitusional atau tidak, dan apakah janji-janji itu terealisasi atau tidak. Yang penting untuk dipertanyakan adalah “sudah benarkah kedaulatan negeri ini?” Berawal dari DPT yang bermasalah, hingga cara-cara kandidat memperoleh suara (ingat, suara belum tentu dukungan murni masyarakat). Maka penting bagi kita untuk mempertanyakan kembali “sudah benarkah kedaulatan tertinggi itu ditangan rakyat? Untuk apa semua itu dilakukan? Benarkah dilakukan atas dasar dan tujuan yang luhur atau hanya sekedar mengejar popularitas untuk menguasai dan menunggangi publik? Jika memang dilandasi tujuan luhur, tujuan luhur apa yang dijadikan dasar dan apa sasaran yang ingin di capai? Benarkah demi mencapai keluhuran bersama atau hanya sekedar keluhuran pribadi dan golongan?

Miris memang, ketika kita melihat hanya segelintir orang/tokoh yang memang benar-benar memiliki visi-misi dan jiwa kenegaraan. Sementara yang lainnya hanya menjadi ikon/boneka pelengkap gedung-gedung pemerintahan dan parlemen. Oleh karena itu, sudah sewajarnya rakyat menggugat esensi kedaulatan negeri ini. Apakah dukungan dan kepatuhan itu hanya semata-mata menjadi sesembahan kepada penguasa dan parlemen?

Dalam ajaran agama, jika patuh dan taat akan mendapat ganjaran pahala dan syurga. Dan jika tidak patuh dan tidak taat akan diganjari dosa dan neraka. Lalu, jika patuh dan taat kepada pemerintah dan parlemen akan mendapatkan ganjaran apa? Apakah hanya cukup dengan janji-janji kosong (cek kosong)? Tidak, itu pembodohan dan penindasan manusia oleh manusia. Seharusnya ada kemudahan hidup di bidang ekonomi, lapangan kerja, pendidikan, keamanan, kepastian hukum dan sarana prasarana (pol-ek-sos- bud-han-kam- rata).

Potongan sila ke 4 pancasila mengatakan “kerakyatan yang dipimpin…dst. ..” sudah tidak terasa hikmat dan bijaksana lagi. Itu disebabkan oleh idealisme dan ideologi yang tidak tertanam kuat dalam diri perwakilan masyarakat. Dan itu dapat dilihat dari sikap masyarakat yang tidak panatis dan tidak konsisten dengan satu tokoh/figur. Itu dikarenakan oleh sikap ikut-ikutan dan terintimidasi ketika memberikan dukungan. Konspirasi parpol yang ambisius (mulai dari tingkat pusat dan provinsi telah memberikan imbas sampai ke daerah-daerah) cenderung melahirkan tindakan politik kotor yang penuh tipu daya. (Kejahatan terorganisir memang sangat berbahaya dan mengancam kebaikan yang tidak terorganisir) .

Akibat dari konspirasi ambisius itu, konstitusi dan kesakralan undang-undang hanya menjadi jilidan kertas yang isinya tidak dipegang dengan teguh. Era konstitusi dan undang-undang mulai tereliminasi oleh kekuatan uang (materi). Itu berarti sistim feodalisme gaya baru atau neokolonialisme mulai bercokol di negeri ini.

Reformasi memang sudah lama berjalan. Dan jika mau mengakui dengan jujur, pemerintah di era reformasi ini, belum menemukan sistim/pola pemerintahan yang kokoh dan konsisten (good goverment). Hal ini dapat dilihat pada begitu keroposnya tatanan dan fondasi-fondasi ekonomi nasional dan begitu lemahnya sistim pemilu yang lalu. Yang pada akhirnya menciptakan pemerintahan yang penuh dengan konflik, korup, kurang produktif, tidak efisien dan tidak ekonomis.

Lalu saya teringat ada seorang teman yang menyebutkan istilah “artis-artis senayan”. Hm…itu berarti parlemen (baik pusat maupun daerah) hanya dianggap sebagai penghibur masyarakat saja, tidak lebih dari itu. Lalu, kemanakah fungsi perwakilan rakyat dan majelis yang selayaknya memimpin dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan itu? Negara yang seharusnya menjadi solusi bagi rakyat, melalui aparatur dan politisinya yang kurang bermoral justru menciptakan konflik dan melegitimasi penyimpangan dan kecurangan yang dilakukan oleh aparatur negara itu sendiri. Dan jika ada orang yang mengkritisi penyimpangan- penyimpangan itu, disebut sebagai aliran kiri. INGAT! Justru ada orang-orang yang mengaku aliran kanan bertindak lebih kiri dan busuk! Retorika-retorika yang diberikan tidak lebih dari untuk mengejar kekuasaan dan memperbudak masyarakat! Ini memang na’if bagi sebuah sistim kenegaraan yang katanya moralis, ideologis dan Bermartabat. Lalu, apakah memang begitu lemahnya dan tidak berartinya kedaulatan yang diberikan oleh masyarakat kepada legislative dan eksekutif tersebut? Karena itulah, tulisan rakyat mengugat kedaulatan negara ini disusun.

Dalam sebuah buku saya temukan, ada filosofi tentang anjing dan harimau. Anjing adalah binatang pemburu yang sangat kompak disaat memburu mangsanya. Namun, ketika hasil buruan tersebut diperolehnya, ada yang membawa kabur demi kepentingan diri sendiri. Dan malah ada yang saling berebutan. Lain halnya dengan harimau, dia biasanya memburu mangsanya seorang diri, namun ketika mendapatkan tangkapan, dia paling baik dan royal dalam membagi hasil tangkapannya.

Dua filosofi hewan pemburu ini, identik dengan sifat dan perilaku politisi, parlemen dan pemerintah. Akan tetapi sebagai “hewan yang berfikir”, manusia seyogyanya lebih baik dibanding sifat dua jenis hewan tersebut.

Jangan bicara tentang SK, warna plat kendaraan, sepatu pansus, jas dan dasi, pulpen, dan kantor tempat kerja. Itu semua hanyalah atribut yang ditempelkan pada jasad yang suatu waktu akan mati, dikubur dan dimakan cacing tanah. Jika memang merasa sebagai politisi yang berjiwa negarawan, bicaralah tentang kebenaran, keluhuran dan pengabdian pada tanah air. Seberapa banyak sumbangsih yang diberikan kepada rakyat? Bukan sebaliknya, berapa banyak rakyat yang bisa dibohongi dan ditunggangi? Ini sungguh jauh berbeda dengan ideologi dan idealisme sebuah bangsa yang bermartabat dan bermoral luhur.

Salam, by. Nazar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: