Telaah dan Kritik atas Wacana Pluralisme

Pluralitas dan kejamakan agama-agama adalah sebuah fakta dan kenyataan historis yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya,bahkan pada tataran tertentu realitas ini seakan-akan telah menjadi keniscayaan sejarah bagi kehidupan kaum religius. Seiring dengan pesatnya laju perkembangan teknologi informasi dan komunikasi global, khususnya dalam beberapa abad terakhir, interaksi dan interrelasi manusia dalam pelbagai bidang kehidupan semakin mudah dan terbuka. Kondisi ini telah menyebabkan keragaman dan kejamakan agama-agama tersebut dapat diamati dan disaksikan dari dekat serta dengan lebih jelas. Paling tidak, secara relatif hal ini telah terpahami dikalangan umat beragama sehingga tak seorang pun diantara mereka yang dapat mengingkari faktualitasnya. Permasalahan yang kemudian muncul berkenaan dengan pluralitas dan perbedaan-perbedaan yang ada pada agama-agama tersebut adalah masalah kebenaran masing-masing agama. Setidaknya, kebenaran setiap agama memerlukan dua syarat utama: Pertama, doktrin atau ajaran-ajaran yang diyakini oleh penganut agama tersebut bersesuaian dengan realitas. Kedua, pengamalan terhadap perintah dan anjuran-anjuran agama menghasilkan kebahagiaan bagi seseorang. Dengan melihat adanya kebergantungan kuat syarat kedua dari syarat pertama, dapat disimpulkan bahwa masalah kebenaran agama-agama serta jawaban-jawaban yang telah diberikan, terkait dengan ranah epistemologi dan harus dibedakan dengan masalah kualitas perilaku para penganut masing-masing agama yang merupakan sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan ranah akhlak dan sosiologi. Dengan kata lain bahwa perbedaan kualitas perilaku para penganut agama-agama antara satu dengan lainnya bergantung pada jawaban yang kita berikan berkenaan dengan masalah kebenaran agama-agama. Dan jika hanya satu agama yang benar, maka agama tersebut berhak untuk menentukan cara berperilaku kepada para penganut agama-agama lainnya.

Para penganut masing-masing agama secara natural akan membenarkan ajaran-ajaran agama mereka serta memahami bahwa jalan keselamatan hanya terbatas pada keimanan atas ajaran-ajaran tersebut, tentunya dengan pengamalan atas perintah dan anjuran-anjuran agama yang dimaksud. Pandangan yang menyatakan ajaran agama-agama lain salah dan batil adalah jawaban yang masih terbilang klasik(tradisional) dalam masalah kebenaran agama-agama, pluralisme agama yang berpijak pada doktrin kristen dan alam pemikiran liberalisme adalah jawaban lain yang mengemuka belakangan ini. Berdasarkan pandangan pluralisme agama, agama-agama yang berbeda-beda bahkan ketika mereka memiliki jawaban-jawaban dan reaksi-reaksi beragam terhadap realitas uluhiyah(divine reality), semuanya dapat menjadi modal keselamatan, kebahagiaan dan kesempurnaan bagi para penganutnya.[1]

Mengingat bahwa pandangan ini dipengaruhi oleh aqidah dan kepercayaan-kepercayaan kristen serta bertumpu pada filsafat-filsafat humanistik barat, perlu kiranya untuk mengulas secara global latar belakang dan dasar-dasar kemunculan pemikiran ini.

LATAR BELAKANG DAN DASAR-DASAR KEMUNCULAN PLURALISME AGAMA

A.Eksklusivisme

Bagian utama dan terpenting dari pandangan-pandangan pluralisme berfokus pada pembahasan doktrin keselamatan kristen. Ajaran atau doktrin keselamatan merupakan inti(poros utama) dalam teologi kristen. Manusia dalam kepercayaan kristen secara esensial (dzati) ternoda dan pendosa, dan jalan keselamatan hanya terbatas pada keimanan terhadap Tuhan yang dengan menitis dalam jasad al-Masih dan kemudian disalib, Ia menebus dosa anak-anak-Nya. Jalan keselamatan seperti ini tidak akan ditemui dalam agama-agama yang lain dan bahkan para penganut agama-agama pra kristen pun tidak bisa menikmati keselamatan ini. Dengan dasar ini slogan-slogan kristen sepanjang abad pertengahan selalu menyerukan bahwa tidak ada keselamatan diluar gereja (extra ecclesian uulla salus). Berdasarkan doktrin dan ajaran-ajaran kristen, bahkan nabi-nabi besar sekalipun seperti Ibrahim dan Musa as. juga tidak memperoleh keselamatan, mereka tinggal dan menunggu dalam suatu tempat bernama Limpu[2] yang mana didalamnya tidak terdapat kelezatan dan kesusahan sedikitpun, hingga dengan inayah Al-Masih as. mereka memperoleh keselamatan.[3] Pandangan ini merupakan jenis eksklusivisme khas kristen yang memiliki perbedaan sangat jelas dengan doktrin dan ajaran-ajaran Islam khususnya dalam hal keselamatan dan kebahagiaan.

B.Inklusivisme

Kritikan-kritikan yang terdapat dalam pemikiran sempit eksklusivisme kristen yang disertai dengan tekanan-tekanan pasca renaissance disebabkan adanya interaksi dan perkenalan antara umat kristen dengan para penganut sejati (shiddiqin) agama-agama lain, memasuki relung gereja. Dan kesemuanya itu menjadi penyebab munculnya pemikiran inklusivisme.

Inklusivisme dapat dipahami sebagai sebuah jalan tengah antara eksklusivisme dan pluralisme.Pada hakikatnya para inklusivis memberikan pembedaan antara kebenaran kepercayaan-kepercayaan agama dengan keselamatan manusia, mereka dalam hubungannya dengan kebenaran kepercayaan-kepercayaan agama adalah eksklusivis, namun dalam kaitannya dengan keselamatan umat manusia mereka lebih dekat dengan pluralisme.

Dengan demikian para inklusivis kristen tetap menekankan bahwa manusia adalah pendosa secara dzati(sejak lahir) dan satu-satunya jalan keselamatan manusia dari dosa adalah menjelmanya Tuhan dalam bentuk manusia(inkarnasi), merasakan siksaan, terhina dan terikat pada salib hingga dengan perbuatan ini Ia membayar tebusan dosa-dosa manusia, dan peristiwa seperti ini melibatkan Isa Al-Masih as. serta merupakan kejadian yang telah nyata. Akan tetapi, agar supaya manusia dapat selamat dan bahagia, mereka tidak perlu mengimani kenyataan sejarah menitisnya Tuhan dalam tubuh Al-Masih. Tebusan untuk dosa-dosa manusia yang telah terbayar akan mencakup seluruh manusia, oleh karena itu para penganut agama-agama lainnya pun adalah orang-orang yang selamat.Karl Rahner(1904-1984 M) menamai orang-orang seperti ini sebagai orang-orang kristen tanpa nama.

Pandangan inklusivisme yang menyatakan bahwa penganut agama-agama lain pun akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan telah memuluskan jalan bagi kemunculan pluralisme. John Hick sebagai salah seorang tokoh pemikir utama pluralisme mengingatkan bahwa pluralisme tidaklah terpisah dari inklusivisme dan pada hakikatnya inklusivisme dalam sisi tertentu mengakui kebenaran agama-agama lainnya dan jika kita menyebut penganut agama-agama yang lain sebagai orang-orang kristen tanpa nama, hanyalah sejenis ungkapan kosong (tak bermakna) dan sia-sia.[4]

Apa yang telah dikemukakan sebelumnya adalah latar belakang dan landasan-landasan keagamaan munculnya pemikiran pluralisme yang menunjukkan bahwa pandangan pluralisme terkait erat dengan konsep-konsep khusus kristen seperti dosa dzati, keselamatan dan penebusan. Dari sisi lain pandangan-pandangan baru filsafat dalam beberapa abad terakhir telah menjadi backing pemikiran bagi pandangan ini.

C.Relativisme

Pembedaan antara phenomena dan noumena adalah salah satu diantara capaian-capaian terpenting dalam filsafat Kant(1724-1804 M) yang menjadi azas dan postulat penting untuk menjelaskan pluralisme. Berdasarkan pandangan ini, kita tidak akan mampu mempersepsi alam sebagaimana ia sesungguhnya ada (maujud). Pemahaman atau persepsi-persepsi kita tidak hanya dihasilkan oleh alam eksternal, tetapi diri manusia pun memiliki peran dalam proses memahami. Olehnya itu, apa yang kita pahami (realitas internal) dengan apa yang ada di luar (realitas eksternal) berbeda. Pandangan ini oleh John Hick juga diterapkan dalam kaitannya dengan kepercayaan-kepercayaan agama. Hasilnya adalah bahwa realitas uluhiyah tidak dapat dijangkau. Apa yang dipahami oleh setiap manusia sesuai dengan kondisi kemanusiaannya serta dipengaruhi oleh adanya perbedaan-perbedaan kebudayaan. Dengan alasan inilah pada setiap agama terdapat pengungkapan yang khusus tentang realitas uluhiyah dimana dengan mengingat ketiadaan batas dalam masalah uluhiyah, seluruh pengungkapan-pengungkapan tersebut dapat dikatakan benar.

Hadirnya neo-relativisme dalam filsafat, juga telah membukakan jalan untuk merancang pluralisme dalam bidang-bidang akhlak, ilmu-ilmu sosiologi dan politik serta agama. Sebelum kehadiran relativisme dalam masalah-masalah alam eksistensi dan pengetahuan tentangnya, terdapat dominasi pemikiran sejenis absolutisme. Akan tetapi berdasarkan pandangan baru, kejadian-kejadian yang ada tidak bisa kita katakan mutlak. Gerak dan perubahan menguasai seluruh eksistensi (alam keberadaan) dan dengan sebab itulah perbedaan kepercayaan atau keyakinan-keyakinan tentang sesuatu yang tunggal, bersifat alami dan natural.

Demikian pula aliran-aliran yang baru muncul seperti pandangan-pandangan hermeneutik dan atau filsafat-filsafat analisis bahasa (linguistic analysism) yang dalam tinjauan tertentu menguatkan pandangan-pandangan pluralisme agama dimana hal ini akan ditunjukkan dalam penjelasan-penjelasan pluralisme berikutnya.

Sebagaimana yang kita saksikan bahwa pluralisme adalah sebuah pandangan atau pemikiran yang memiliki kesesuaian dengan azas dan tujuan-tujuan liberalisme politik. Liberalisme politik selalu menekankan pada sikap ramah dan toleransi, penghormatan terhadap kebebasan dalam masalah-masalah individu serta dukungan atas pluralisme dalam cara-cara menjalani hidup.

Mengikuti liberalisme politik, jenis teologi liberal secara signifikan muncul dalam ranah teologi protestan. Gagasan-gagasan yang dihasilkan teologi liberal lebih banyak terfokus pada bidang internal dan personalisasi agama. Berdasarkan hal tersebut para liberalis dari kelompok ini berpijak pada pengalaman keagamaan (religious experience) dan masalah-masalah seperti wahyu ditafsirkan sebagai pengalaman keagamaan, mereka memahami bahwa pengalaman keagamaan masing-masing orang dipengaruhi oleh budaya dan kepercayaan-kepercayaan mereka dan dengan cara ini mereka menjelaskan perbedaan-perbedaan agama berdasarkan perbedaan-perbedaan kultur. Pemisahan antara inti dan serpihan agama juga dijelaskan dalam pandangan ini dan berdasarkan hal itu masalah-masalah seperti kedekatan (qurb) kepada Tuhan dipahami sebagai inti (substansi) sedangkan doktrin atau ajaran-ajaran agama yang menjadi sumber perbedaan agama-agama disebut sebagai serpihan agama yang tidak penting.

Dari apa yang telah diurai sebelumnya berkenaan dengan latar belakang dan dasar-dasar kemunculan pluralisme, menjadi jelas bahwa pemikiran ini dirancang dalam suatu lingkungan khusus dan berpijak pada prakonsepsi-prakonsepsi dan tujuan-tujuan tertentu. Prakonsepsi atau pra-supposisi terpenting yang lebih banyak mendominasi pemikiran-pemikiran filsafat barat adalah humanisme. Humanisme menyatakan bahwa seluruh fenomena-fenomena dimana agama adalah salah satu diantaranya merupakan suatu fenomena yang bersifat budaya dan memiliki sumber atau akar insani (humanis). Olehnya itu, dalam berhadapan dengan pandangan-pandangan ini kita harus mengkaji dan melihat kembali kritikan-kritikan penting yang telah dilontarkan terhadap empirisisme dan relativisme.

Hingga disini pembahasan tentang latar belakang dan azas-azas kemunculan pluralisme kita akhiri dan selanjutnya kita akan mengurai dan mengupas lebih jauh salah satu dari penjelasan-penjelasan paling penting tentang pluralisme.

PENJELASAN JOHN HICK TENTANG PLURALISME AGAMA

John Hick bukanlah orang pertama kali yang mengawali lahirnya pemikiran pluralisme agama, akan tetapi ia menjadi orang yang sangat penting dalam kajian ini disebabkan upaya perluasan dan pengembangan yang dilakukannya terhadap pemikiran ini dan dengan penjelasan yang lebih segar dan baru ia melakukan pembelaan atasnya. Ia disepanjang kehidupan politik dan keilmuannya senantiasa membaur dan berinteraksi (berdialog) dengan penganut agama-agama yang lain dan dengan alasan inilah ia dapat menyimpulkan bahwa mereka pun [para penganut agama-agama lainnya] adalah pemilik kebenaran.

Dalam penjelasan John Hick tentang pluralisme dikatakan bahwa hakikat atau kebenaran mutlak adalah tidak terbatas dan seseorang tidak dapat mengetahui dan mengalaminya. Sesuatu yang diketahui manusia dari hakikat mutlak adalah terbatas dan terkungkung dalam ketidak mampuan akal dan pikiran manusia. Dalam budaya dan bahasa yang beragam akan ditemukan konsep-konsep dan nama-nama yang berbeda tentang hakikat mutlak dimana dengan mengingat ketiadaan batas dari hakikat mutlak tersebut, maka seluruh pengungkapan dan deskripsi-deskripsi yang ada dapat dinyatakan benar. Deskripsi manusia terhadap hakikat dan kebenaran mutlak menyerupai deskripsi-deskripsi dari sekelompok orang-orang buta tentang seekor gajah dimana mereka hanya mendeskripsikan sesuatu yang dapat mereka raba. Meskipun pendeskripsian mereka berbeda antara satu dengan lainnya, akan tetapi semua deskripsi-deskripsi tersebut adalah benar.[5]

Sesuatu yang dapat ditemukan dalam agama-agama adalah realitas yang tersaksikan (masyhud) dan telah ditafsirkan.Ketika orang-orang beragama memperbincangkan hakikat sebuah realitas, mereka hanya mampu menjelaskan bagaimana realitas tersebut nampak bagi mereka. Oleh sebab itu, sebagian dari mereka menyerukan tauhid dan sebagian lagi menyuarakan dualitas. Dan oleh karena hakikat akhir tidak terbatas, maka seluruh deskripsi dan pengungkapan ini bisa dibenarkan.

John Hick dengan pemilahan inti agama dari serpihannya berkeyakinan bahwa doktrin dan ajaran-ajaran agama bukanlah inti dari agama, akan tetapi inti agama adalah perubahan jati diri manusia. Sesungguhnya kebenaran ajaran-ajaran agama tidak lagi bermakna kesesuaiannya dengan realitas, tetapi ukuran kebenaran mereka (baca:ajaran agama) adalah kemampuannya dalam mengubah manusia, yaitu sebuah perubahan internal dimana manusia terbebaskan dari ego-sentrisme menuju teo-sentrisme. Inti dan mutiara ini terdapat dalam semua agama-agama dan oleh karena itu seluruh agama-agama adalah benar. Adapun perbedaan-perbedaan yang terlihat diantara agama-agama bersumber pada lingkungan budaya tertentu dimana agama-agama tumbuh dan menyempurna.

Apa yang telah diuraikan sebelumnya adalah penjelasan paling masyhur berkenaan dengan pluralisme, namun demikian terdapat pula landasan-landasan lainnya yang pada sisi tertentu membenarkan dan mengemukakan pandangan pluralisme, secara global akan kita bahas sebagian dari yang paling pentingnya.

PENJELASAN LAIN TENTANG PLURALISME

Pandangan atau teori permainan bahasa (language-game) Wittgenstian (1889-1951 M) adalah salah satu diantara bentuk-bentuk pemikiran yang berujung pada pluralisme. Berdasarkan pandangan ini kehidupan manusia memiliki tingkatan-tingkatan atau elemen-elemen yang berbeda. Pada setiap elemen kehidupan terdapat kaidah-kaidah dan aturan-aturan khusus yang berlaku di dalamnya. Sebagaimana halnya dengan kaidah dan aturan-aturan permainan sepak bola yang tidak dapat digeneralkan pada jenis-jenis permainan lainnya, kaidah dan aturan-aturan yang ada pada elemen-elemen kehidupan manusia pun tidak dapat diterapkan secara umum. Agama merupakan salah satu dari elemen-elemen kehidupan manusia yang memiliki kaidah-kaidah dan aturan-aturan khusus tersendiri. Dalam setiap budaya juga terdapat bahasa keagamaan (religious language) khusus dengan kaidah-kaidah tersendiri dalam menetapkan hukum. Kaidah-kaidah ini dari satu sisi tidak dapat di generalkan namun disisi lain juga tidak bertentangan atau mengalami kontradiksi antara satu dengan lainnya. Misalnya; dalam kristen tidak terlihat adanya satu pun hukum berkenaan dengan Allah, olehnya itu hukum-hukum dan kepercayaan-kepercayaan yang berkenaan dengan Allah yang terdapat dalam Islam adalah terkhususkan untuk Islam. Dengan demikian Islam dan Kristen tidak akan pernah bertentangan dan mengalami kontradiksi antara satu dengan lainnya dan berdasarkan hal inilah perbedaan-perbedaan seluruh agama-agama dapat di jelaskan.

Dalam penjelasan John Hick, perbedaan-perbedaan diantara agama-agama memiliki sumber atau sisi insani (manusiawi), akan tetapi dalam penjelasan sebahagian filosof dan pemikir-pemikir keagamaan lainnya dikemukakan bahwa kebenaran seluruh agama-agama telah diterima dan perbedaan-perbedaan yang ada dijelaskan sebagai takdir Tuhan. Berdasarkan pandangan ini kandungan makna setiap agama ditentukan berdasarkan takdir Ilahi dan disesuaikan dengan kemampuan atau potensi-potensi insaniah (kemanusian), pada hakikatnya perbedaan-perbedaan yang ada bersumber dari takdir Tuhan dan kita tidak boleh mengupayakan usaha-usaha untuk menghilangkannya.[6]

Orang-orang seperti schleiermacher (1768-1834 M.) mengemukakan jawaban-jawaban yang bersifat substansial dalam kaitannya dengan masalah keragaman agama-agama. Berdasarkan pandangan ini, pada setiap agama menitis sebahagian inti atau mutiara agama yang bersifat azali dan abadi, dengan demikian semua agama-agama mengandungi kebenaran.

Terdapat pula penjelasan lain mereka yang dengan memisahkan syariat dari iman, mereka memahami bahwa syariat merupakan produk institusi-institusi keagamaan dan berdasarkan hal ini syariat bersifat tetap (tidak elastis) serta menafikan yang lain. Akan tetapi keimanan agama adalah sebuah pengalaman tanpa henti yang tidak akan berujung pada penafian yang lain. Dalam penjelasan ini hakikat akhir akan memanifestasi dalam bentuk-bentuk yang beragam, dan manifestasi-manifestasi tersebut tidak saling menafikan antara satu dengan lainnya.[7]

Pada dasarnya masih terdapat sederetan pilar-pilar pemikiran yang dalam tinjauan tertentu membenarkan dan menguatkan pluralisme, namun demikian untuk keringkasan pembahasan ini kita tidak akan membahasnya. Dalam pembahasan selanjutnya kita akan mengkaji dan melakukan kritik terhadap pluralisme beserta dalil-dalilnya.

KRITIK ATAS PLURALISME

Sebelum kita mengoyahkan neraca kekuatan dalil-dalil pluralisme, perlu kiranya untuk melihat secara khusus kedudukan epistemik pandangan ini. Pluralisme adalah termasuk salah satu dari bidang-bidang kajian filsafat agama. Filsafat agama seperti halnya dengan filsafat matematika dan filsafat-filsafat cabang lainnya, merupakan jenis pengetahuan tingkat kedua. Sebagai contoh, apabila kita mencermati filsafat [atau ilmu] matematika secara lebih teliti, maka dalam ilmu ini akan terlihat adanya keraguan-keraguan yang sangat penting berkenaan dengan proses atau prosedur kebenaran hukum-hukum matematika. Akan tetapi para ahli dan pakar matematika tidak pernah menunggu untuk terselesaikannya keraguan-keraguan tersebut dan membenarkan diri mereka untuk menerapkan hukum-hukum matematika sebagai hukum-hukum yang pasti tanpa memperhatikan keraguan-keraguan epistemologis yang ada. Hal yang sama dalam masalah-masalah yang menjadi kajian filsafat agama pun dapat dibenarkan. Orang-orang beriman berhak untuk tidak menunggu terselesaikannya keraguan-keraguan epistemik para filosof agama, dan para filosof agama pun tidak perlu menunggu keraguan-keraguan mereka mempunyai efek dalam kepercayaan-kepercayaan orang-orang mukmin.[8]

Mungkin dengan alasan ini pluralisme sebagai salah satu diantara capaian-capaian penting filsafat agama tidak mempunyai pengaruh yang berarti ditengah-tengah orang-orang beriman. Bahkan John Hick sendiri dengan ia menekankan bahwa pemikirannya merupakan hasil logis dari inklusivisme kristen[9] dengan terpaksa terasingkan dari masyarakat religius kristen.[10] Ia menegaskan bahwa pluralisme tidak memiliki dalil-dalil yang dapat diterima secara umum (oleh umum)[11] dan hanya merupakan suatu teori.[12] Ia pun mengakui bahwa ia menjelaskan pandangan ini berdasarkan pengamatan dan penelitian pada agama-agama besar dan ini merupakan proses penyimpulan induktif yang tidak sempurna serta tidak dapat mencakup agama-agama yang lebih kecil atau aliran-aliran keagamaan penting lainnya[13]

KRITIK LUAR AGAMA

Pada penjelasan John Hick,dalam tinjauan tertentu ia memberikan pembenaran atas tiadanya kesesuaian alam luar (realitas eksternal) dengan dzehn (realitas internal) dimana hal ini merupakan jenis skeptisisme yang paling nampak dan menjadi kritikan terpenting terhadap pemikiran pluralisme. Sesungguhnya dalam pemaparan John Hick tentang kemustahilan untuk dapat mengetahui hakikat akhir, membuahkan suatu kongklusi bahwa semua agama-agama berada dalam kesalahan dan tak satupun diantara mereka yang benar (shahih). Apabila kita memperhatikan kisah permisalan (tamsil) gajah secara teliti, akan kita lihat bahwa semua orang-orang buta yang berusaha menjelaskan atau mengungkapkan hakikat gajah tidak ada yang benar dan pada dasarnya tak satu pun diantara mereka yang mengetahui hakikat gajah.

John Hick dari satu sisi memahami bahwa hakikat akhir mustahil untuk dapat diketahui dan dari sisi lain menggambarkan keberadaan-Nya sebagai sesuatu yang pasti, akan tetapi bagaimana mungkin dapat membicarakan eksistensi suatu hakikat yang tidak dapat diketahui serta tidak dapat memperbincangkan sesuatu tentangnya? Jika kita tidak dapat berbicara tentang realitas akhir, lalu apa sesungguhnya yang menjadi perbedaan antara iman dan kufur (atheism)?

Dalam hal kemustahilan untuk mengetahui hakikat akhir, kita perlu melakukan perenungan kembali. Adalah benar bahwa hakikat akhir memiliki wujud yang tak terbatas dan tentu saja manusia disebabkan keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya tidak akan mampu menjangkau wujud tak terbatas serta mempersepsi dzat-Nya, tetapi hal ini sama sekali tidak bermakna bahwa sedikitpun tidak dapat membicarakan sesuatu tentang-Nya. Esensi wujud seperti ini mempunyai sifat-sifat khusus dan tidak memiliki sifat-sifat lainnya. Dengan melakukan perenungan terhadap konsepsi (mafhum) wujud tak terbatas, kita dapat membahasnya bahwa, apakah mungkin wujud seperti ini menjelma atau menitis (tajassud) dalam tubuh seorang manusia? Apakah ketersiksaan diatas salib bisa dinisbahkan kepada wujud seperti ini? Jawaban orang-orang kristen terhadap kedua pertanyaan ini positif sedangkan jawaban orang-orang muslim adalah negatif. Kedua jawaban tersebut mustahil dapat dinyatakan benar. Bagaimanapun juga di alam realitas, entah penitisan bagi wujud tak terbatas yang bisa terjadi atau sebaliknya mustahil dapat terjadi. Dan oleh sebab itu dalam pandangan ini hanya satu diantara dua agama Islam atau Kristen yang benar.

Hakikat dan kebenaran agama tidak dapat disimpulkan hanya dalam suatu pengalaman keagamaan (religious experience). Agama-agama mempunyai dimensi-dimensi kesejarahan, sosiologis dan etika yang penting.

Perbedaan agama-agama tidak dapat terangkum hanya dalam deskripsi-deskripsi mereka tentang hakikat akhir. Perbedaan kesejarahan agama-agama begitu sangat dalam dan seluruh pandangan-pandangan mereka tidak dapat dinyatakan benar. Perbedaan-perbedaan ini jika dilihat berdasarkan tinjauan logika, maka hanya satu diantaranya yang dapat dinyatakan benar. Sebagai suatu contoh; Berdasarkan keyakinan Kristen hadzrat Isa Al-Masih as. terbunuh diatas salib akan tetapi berdasarkan kepercayaan Islam beliau tidak terbunuh. Berpegang teguh pada pluralisme dalam perbedaan-perbedaan semacam ini hanya akan berakhir pada kontradiksi.

Dengan melihat adanya kontradiksi-kontradiksi yang ditemui diantara ajaran-ajaran atau doktrin agama-agama yang berbeda-beda, maka seluruh agama-agama tersebut tidak lagi dapat dikatakan sebagai jalan-jalan menuju hakikat yang tunggal. Karena jalan-jalan ini berpijak pada prakonsepsi-prakonsepsi yang memiliki kontradiksi sangat jelas dan tegas, olehnya itu hanya satu diantara mereka yang dapat dinyatakan shahih.

Unsur asli pemikiran John Hick terdapat dalam pandangan dan penjelasan filosofisnya yang mengatakan bahwa mustahil adanya untuk sampai pada hakikat (realitas) – sebagaimana hakikat itu ada (maujud). Pandangan skeptis ini mengemuka dibarat pada saat dimana mereka hanya menerima konsepsi-konsepsi yang dihasilkan melalui indra sebagai konsepsi (mafhum) yang valid dan dapat dipercaya. Dan dengan alasan ini konsepsi-konsepsi seperti sebab dan akibat atau hubungan kesebaban (kausalitas), mereka nyatakan tidak valid atau tidak kredibel. Akan tetapi dalam filsafat Islam konsepsi-konsepsi semisal sebab dan akibat atau ada (wujud) dan tiada (`adam) dihasilkan melalui ilmu khuduri. Sesungguhnya dengan bersandarnya pengetahuan pada ilmu-ilmu khuduri dan badihi (swa bukti) akan menyelesaikan banyak sekali masalah-masalah epistemologi dan hal ini telah diuraikan secara detail dalam berbagai teks atau literatur-literatur filsafat Islam.[14]

Apa yang telah dibahas sebelumnya menunjukkan kesulitan atau adanya problem logika dalam pemikiran pluralisme. Untuk pembahasan selanjutnya kiranya perlu untuk mengamalkan perintah dan anjuran para Imam as. dimana dalam setiap keraguan atau subhat mereka merujukkan kita kepada Al-Qur`an Al-Karim, mari kita membuka kitab Tuhan sembari mendengarkan perkataan wahyu.

Metode dan cara para sahabat Aimmah as. menunjukkan bahwa keimanan mereka tidak pernah tergoyahkan hatta ketika terjadi berbagai subhat yang tidak mampu mereka jawab. Sebagai contoh, dalam suatu diskusi antara Abu Al-Huzail Allaf (wf.235 H) – seorang mutakallim mu`tazilah – dengan Hisyam Ibnu Hakam, Abu Al-Huzail mengajukan syarat kepada Hisyam bahwa: Jika engkau menang dariku maka aku akan merujuk pada mazhabmu dan jika aku menang atasmu maka engkau yang harus merujuk pada mazhabku. Mungkin syarat yang diajukan Abu Al-Huzail ini menunjukkan keyakinannya pada pengetahuan yang dimilikinya, tetapi Hisyam tidak menerima syarat tersebut dan mengajukan syarat lain yang merefleksikan puncak keimanannya, Hisyam dalam menjawab Abu Al-Huzail berkata : Aku akan berdiskusi denganmu, jika aku menang darimu maka merujuklah pada mazhabku dan jika engkau menang dariku maka aku akan merujuk pada imamku.[15] Hisyam dengan syaratnya ini hendak menunjukkan bahwa zona iman jauh lebih luas dari sebatas area dimana didalamnya berlangsung dialog dan perdebatan serta pemunculan berbagai subhat berikut jawaban-jawabannya. Bagaimana pun juga dalam masa dimana kita tidak mampu merujuk langsung kepada para Maksum as. berdasarkan perkataan mereka kita merujuk pada kitab Tuhan dan dengan suatu pandangan keagamaan kita memasuki pembahasan pluralisme.

KRITIK DALAM AGAMA

Al-Qur`an dalam berbagai ayat secara eksplisit menafikan pluralisme “Sesungguhnya agama (yang di ridhoi) disisi Allah hanyalah Islam.” [16] dan “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [17]

Kita sebagai kaum muslimin dalam setiap harinya berkali-kali memohon kepada Tuhan agar senantiasa diberi petunjuk kepada jalan yang lurus: “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Q.S.Al Fatihah:6) yaitu jalan orang-orang yang mendapat hidayah dimana Tuhan senantiasa memberikan inayah kepada mereka: “Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka…”(Q.S.Al Fatihah:7); Akan tetapi terdapat pula kelompok kedua dimana mereka menemukan jalan namun tidak menerimanya:“…Bukan (jalan) mereka yang dimurkai…”(Q.S.Al Fatihah:7) dan kelompok ketiga yang tak menemukan jalan serta kebingungan: “Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”(Q.S.Al Fatihah:7). Jabir bin Abdullah Ansari menukilkan : Saya duduk didekat Rasulullah SAAW dimana beliau dengan jari telunjuknya membuat garis lurus dan kemudian menarik dua garis lagi disebelah kiri dan kanannya lalu beliau meletakkan tangannya yang berkah pada garis tengah dan bersabda: “Inilah jalan Allah” dan pada saat itu beliau membacakan ayat ini : “Dan bahwa (yang Aku perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” [18]

Selain dari pada apa yang telah dikemukan diatas, dalam banyak ayat shirot atau jalan telah didefenisikan dimana defenisi tersebut tidak sesuai dengan kepercayaan adanya jalan-jalan [lebih dari satu jalan,penj.] yang lurus : “Dan bahwa (yang Aku perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia”,“…menunjuki(manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” dan ayat-ayat serta riwayat-riwayat lainnya yang mengajak kaum musyrikin khususnya para ahlul kitab kepada Islam, tidak sesuai dengan pluralisme : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah; sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [19] demikian pula ayat “Hai ahli kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah? Padahal kamu mengetahui (kebenarannya)” [20]

Terdapat banyak ayat yang mengatakan bahwa pesan atau perkataan Al-Qur`an Al-Karim adalah diperuntukkan bagi seluruh masyarakat dan memperkenalkan agama Islam sebagai agama yang abadi : “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Fuqan (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” [21] dan “Katakanlah, Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,…” [22]

Panggilan “Yaa… ayyuhannas” dalam ayat diatas serta panggilan-panggilan serupa yang terdapat dalam banyak tempat dalam Al-Qur`an yang memposisikan manusia sebagai pendengarnya, menunjukkan salah satu diantara kekhususan-kekhususan Al-Qur`an yang membedakannya dari kitab-kitab suci yang lain. Al-Qur`an Al-Karim adalah satu-satunya kitab yang menjadikan manusia sebagai audiensnya dan kekhususan ini menyebabkan Al-Qur`an dalam kebuntuan-kebuntuan epistemik manusia dizaman sekarang berubah menjadi sumber pengetahuan (ma`rifat) asli manusia.

Meskipun dalam agama-agama lain juga terdapat kitab-kitab suci, namun tak satu pun dari kitab-kitab tersebut menjadikan manusia sebagai audiensnya, apabila kita memperhatikan secara khusus kitab suci umat kristiani, kitab tersebut adalah sekumpulan catatan-catatan sejarah kehidupan para nabi yang dilaporkan oleh beberapa orang dan oleh sebab itu dalam keseluruhan isi kitab suci ini, panggilan “Yaa… ayyuhannas” atau “Yaa… ayyuhal insan” sebagaimana yang terlihat dalam Al-Qur`an Al-karim tidak kita temukan, sebagai contoh dalam Injil Lukas dimulai seperti ini : “Dengan alasan bahwa sangat banyak yang mengulurkan tangannya kearah penulisan (penyusunan) hikayat suatu urusan yang bagi kami telah tersempurnakan, saya pun melihat maslahat bahwa semuanya itu dari awal secara tertib kutulis untukmu wahai Tiplus yang terhormat”

Kalimat-kalimat diatas secara jelas menunjukkan situasi atau keadaan yang menguasai kitab suci kristen serta perbedaan mendasarnya dengan Al-Qur`an Al-Karim. Perbedaan ini terlihat dalam satu per satu ayat-ayat dari kedua kitab tersebut, sebagai salah satu contoh yang cukup jelas, ayat-ayat dari Injil Lukas diatas dapat kita bandingkan dengan ayat Al-Qur`an dibawah ini : “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri; dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” [23]

Ayat-ayat lain mengatakan bahwa pengingkaran terhadap Rasulullah SAWW adalah juga bentuk pengingkaran terhadap nabi-nabi yang lain. Dan ini benar-benar sangat bertentangan dengan pluralisme : “Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan(pula),…” [24]. Dan adapula ayat yang mengkhususkan atau membatasi kebenaran hanya pada agama Islam dan memperkenalkan orang-orang yang berkeyakinan dengan agama-agama lainnya sebagai orang-orang yang merugi: “Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [25] ayat ini tidak sesuai dengan pluralime agama. Ustad Syahid Muthahhari dalam menjelaskan ayat ini menulis : “Jika dikatakan bahwa maksud dari pada Islam tidak terkhusus pada agama kita tetapi yang dimaksudkan adalah ketasliman (ketaatan) pada Tuhan, maka jawabannya adalah bahwa sesunggunya Islam adalah taslim itu sendiri dan agama Islam yakni agama taslim. Akan tetapi hakikat taslim dalam setiap zaman mempunyai bentuk tersendiri, dan pada zaman ini bentuknya adalah suatu agama yang sangat kaya dan berharga yang dimunculkan melalui tangan penutup para Nabi SAWW dan tentunya kata Islam bersesuaian dengannya dan cukup…’ dengan kata lain, prasyarat ketaatan atau ketasliman pada Tuhan adalah penerimaan atas perintah-perintah-Nya, dan sangat jelas bahwa perintah terakhir Tuhan itulah yang selalunya mesti dijalankan dan perintah paling akhir dari Tuhan adalah sesuatu yang dibawa oleh rasul-Nya yang terakhir.” [26]

JAWABAN ATAS BEBERAPA PERTANYAAN

Dalam pembahasan selanjutnya kita akan mengkaji beberapa subhat (keraguan) penting yang telah diajukan dalam upaya membenarkan atau menguatkan pluralisme.

A. Jika hanya ada satu agama yang benar[agama yang hakiki], maka dengan dalil apa setelah melewati berabad-abad lamanya hingga saat ini, tak satupun agama yang tampak lebih dominan dari agama-agama lainnya? Dengan kata lain, kita menyaksikan adanya kesamaan dalil-dalil diantara agama-agama dimana hal itu telah menyebabkan tetap terjaganya kejamakan atau pluralitas agama disepanjang sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa agama-agama ditinjau dari segi kebenarannya berada dalam suatu kondisi yang sama.

Jawab: Kesamaan dalil-dalil menurut tinjauan logika tidak menunjukkan benarnya seluruh klaim atau dakwaan-dakwaan yang ada. Sebagai contoh, Islam dan Kristen mempunyai perbedaan-perbedaan dalam banyak kejadian-kejadian sejarah (realitas historis). Kristen mengatakan bahwa yang menjadi qurban nabi Ibrahim as. adalah Ishaq sementara kaum muslimin menyakini bahwa yang menjadi qurbannya adalah Ismail, dari sudut pandang luar, keduanya berpegang teguh pada teks-teks agama mereka sehingga dengan demikian tak satu pun diantara mereka yang meninggalkan kepercayaannya, akan tetapi realitas sejarah hanya membenarkan salah satu dari kedua klaim tersebut dan keduanya tidak dapat dinyatakan benar. Hanya saja, dengan adanya tinjauan kesejarahan dalam contoh ini maka tidak mungkin untuk dapat menerapkan argumentasi rasional, tetapi dalam masalah-masalah seperti tauhid atau kemustahilan penitisan bagi wujud tak terbatas dapat ditunjukkan dalil-dalil yang besifat pasti (yakini) dan dalam menjelaskan sebab ketidak penerimaan mereka terhadap dalil-dalil yang besifat pasti atau yakini, kita mesti merujukkannya pada penjelasan-penjelasan psykologis dan sosiologis. Jika kita mencermati secara teliti sejarah kebenaran (hakikat), akan terlihat bahwa ketertarikan pada hakikat serta upaya untuk menghindarinya senantiasa mendominasi kehidupan individu dan sosial manusia dan hal ini semakin menambah nilai pentingnya teosentrisme.

B. Bahwa hanya kelompok khusus saja yang mendapatkan hidayah adalah tidak sesuai dengan hidayah umum Tuhan. Sifat Hadi adalah diantara sifat-sifat Ilahi dan mengandungi makna hidayah bagi keseluruhan manusia.

Jawab: Jika kita ingin memberikan jawaban kontra terhadap subhat ini, kita katakan bahwa Tuhan pun adalah Maha pemberi rezki, maka seharusnya tak satu pun manusia atau binatang yang kelaparan sementara kondisinya tidak demikian. Ini menunjukkan bahwa ke-mahahidayah-an Tuhan tidak selalu bermakna bahwa manusia akan memilih jalan hidayah, bahkan ke-Hadi-an Tuhan hanya mengisyaratkan makna bahwa Tuhan senantiasa menunjukkan jalan, dan dalam makna ini tidak ada keraguan dalam hidayah umum Tuhan.

C. Bagaimana mungkin dapat diterima bahwa diantara seluruh orang-orang sholeh didunia yang jumlahnya mencapai milliyaran orang, hanya segolongan kecil syi`ah yang akan memperoleh keselamatan.

Jawab: Hakikat (kebenaran) adalah sesuatu yang diluar dan berhubungan dengan realitas. Realitas tidak akan pernah mengikuti kepercayaan-kepercayaan manusia, bahkan ketika seluruh manusia memiliki kepercayaan yang bertentangan dengan realitas, maka hakikat tidak akan penah berubah atau berganti. Bukankah dahulu selama berabad-abad manusia meyakini bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi.

Meskipun demikian, tidaklah benar bahwa hanya orang-orang syi`ah yang memperoleh keselamatan. Sebelum kedatangan Islam para penganut agama-agama yang lain adalah juga pemilik kebenaran. Pasca kedatangan Islam pun, setiap penentang bukanlah ahli keburukan atau orang yang celaka, bahkan kecelakaan dan nasib buruk selalu beriringan dengan kesalahan atau kelalaian (taqshir) dan menurut pandangan para filosof sepeti Ibnu Sina dan Shadrul Muta`allihin (Mulla Shadra), kebanyakan orang-orang yang tidak mengakui hakikat atau kebenaran adalah lemah (qashir), bukan lalai atau bersalah (muqashir) dan perlu diketahui pula bahwa kebahagian dan nasib buruk memiliki derajat dan tingkatan-tingkatan.[27]

Pluralisme bagi pendukungnya memberikan paedah-paedah seperti kehidupan yang lebih utuh dan selamat, terciptanya kesepahaman antara agama-agama, ternafikannya kekerasan dan fanatisme dsb…, akan tetapi perlu diketahui bahwa kegunaan dan paedah-paedah tidaklah bermakna benar dan shahih. Dari sisi lain kegunaan atau fungsi-fungsi seperti ini dalam pandangan-pandangan yang non-pluralis pun dapat ditemukan dan tidak hanya terkhususkan pada pluralisme. Kita bisa hidup dalam damai dan toleransi dengan penganut agama-agama yang lain dan dalam keadaan ini tetap berpijak pada kebenaran agama tertentu.

Dalam kaitan ini, kita mesti memperhatikan pula kegunaan atau fungsi-fungsi negatif pluralisme. Untuk tercapainya kemufaqatan antara agama-agama, pluralisme memandang tidak perlu untuk memperhatikan seluruh aspek-aspek penting agama dan telah mempersempit atau memperkecil agama sebatas pencarian hakikat atau pengalaman keagamaan, sementara agama-agama juga mempunyai aturan-aturan atau hukum-hukum amaliyah, kemasyarakatan dan etika yang penting. Sesungguhnya dengan menganggab tidak penting adanya pertentangan-pertentangan dan perbedaan-perbedaan aqidah akan mengancam kekuatan amaliyah dan dimensi keimanan agama-agama. Demikian pula, dalam pandangan ini tidak ada ikhtiyar untuk memperhatikan pandangan-pandangan yang bersifat eksklusif dari agama-agama dan juga pada pandangan orang-orang mukmin sendiri tentang kebenaran agamanya.[]

Di terjemahkan oleh Ali Imami dari Pluralisme Dini, karya Ridha Shadiqi (2007)

[1] Aql wa Itiqade Dini,Hal. 406

[2] Limpo dalam kepercayaan kristen adalah suatu tempat menyerupai alam barzah dimana para nabi seperti nabi Musa as. dan juga anak-anak yang belum di mandi ta`mid tinggal, dan pada tempat ini tidak terdapat kelezatan dan kesusahan.

[3] Muhammad Legenhausen, Ma`refat:Pluralism, barrasi-e didgahe mutafaqqeran-e Islam, No. 23

[4] John Hick, Mabahats-e Pluralisme Dini, hal.68

[5] Maulana Jalaluddin Rumi (604-672 H.) dalam suatu permisalan (tamsil) yang sama menceritakan tentang sekelompok manusia yang meraba seekor gajah dalam kegelapan, tetapi maksud Maulawi dalam mengangkat permisalan ini adalah untuk menunjukkan ketidak mampuan akal dan keniscayaan adanya wahyu.

[6] Ma`refat: Adyan wa mafhume ghai; mushahebei ba John Hick wa Sayyed Hossein Nasr, No.23

[7] Muhammad Mujtahid Syabastari, Kyan, No. 28

[8] Untuk telaah lebih jauh silahkan merujuk pada : Muhammad Jawad Larijani, Tadwin; Hukumat wa Touse-e, Hal. 74-78

[9] John Hick,Mabahets-e Pluralism Dini, Hal. 69

[10] Ibid, Dalam makalah pertama dibawah tema: se iqterah.

[11] John Hick, Kyan;Te`dade Adyan, No. 16

[12] John Hick, Mabahets-e Pluralism Dini, Hal. 74

[13] Ibid, Hal. 74 dan 85

[14] Murtadha Muthahhari, Sarh-e Mabsut-e Manzumeh, Jilid 2, Hal.66-69 dan Ushul-e Falsafe wa Rawesye Realism, Jilid 2, Hal. 8-9 dan 56-62

[15] Ushul Kafi, Jilid 1, Hal. 170 dan Syaikh Shaduq, Risalatun fi al-ittiqad, Hal. 74

[16] Surah Ali Imran(3):19

[17] Surah Ali Imran(3): 85

[18] Surah Al-An`am(6): 153 dan Sunan Ibnu Majah, Jilid 1 Hal. 8 yang dinukil dari: Ayatullah Ma`refat, Andisye-e Hauze; Naqd-e Pluralism Dini, No. 16

[19] Surah Al Baqarah(2) :120

[20] Surah Ali Imran(3):70

[21] Surah Al Furqan(25) :1

[22] Surah Al A`raf(7): 158

[23] Surah Az Zumar(39): 41

[24] Surah Ali Imran(3): 184

[25] Surah Ali Imran(3): 85

[26] Murtadha Muthahhari, Majmu-e Atsar, Jilid 1, Hal. 277

[27] Tentang keselamatan kaum mayoritas, Murthada Muthahhari, Majmu-e Atsar, Jilid 1, Hal. 300

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: