PAPUA DAN KESULTANAN TIDORE

Sebelum Malaka jatuh ke tangan bangsa Portugis (1511), kerajaan Islam mempunyai pengaruh yang kuat dalam pelayaran dan perdagangan di nusantara. Maluku sebagai pusat rempah-rempah sangat tekenal itu, dikunjungi olekh pedagang-pedagang nusantara yang beragama Islam. Akibatnya misi penyebaran agama Islam merupakan misi teselubung ternyata sampai sebelum tahun 1500 di Maluku terdapat empat buah kerajaan Islam. Keempat kerajaan itu adalah Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Diantara kerajaan-kerajaan itu yang pengaruhnya luas adalah kerajaan ternate dan Tidore. dan diantara kedua yang mempunyai pengaruh besar hanyalah kesultanan Tidore.
Sebuah catatan sejarah Kesultanan Tidore “Museum memorial Kesultanan Tidore Sinyine mallige” menulis pada tahun 1453 Sultan Tidore yang ke 10 Ibnu Mansur bersama Sangaji Patani Sahmardan dan Kapitan Waigeo bernama Kapitan Gurabesi memimpin ekspedisi kedaratan tahan besar. Ekspedisi yang terdiri dari satu armada kora-kora berangkat ke tanah besar beserta pulau-pulau melewati patani Gebe dan Waigeo. Ekspedisi ini berhasil menaklukkan beberapa wilayah di Irian bagian barat dan menjadikan kesultanan Tidore yang terdiri dari :
a. Wilayah raja Ampat atau Korano Ngaruha meliputi wilayah-wilayah:
Kolano Waigeo
Kolano Salawati
Kolano Umsowol atau Lilinta
Kolano Waigama
b. Wilayah Papoua Gamsio (Papoua Sembilan negeri) meliputi :
Sangadji Umka
Gimalah Usba
Sangaji Barei
Sangaji Boser
Gimalaha Kafdarum
Sangaji Wakeri
Ginalaha warijo
Sangaji Mar Gimala Marasay
c. Wilayah Mafor Soa Raha (atau Mafor Empat Soa) meliputi :
Sangaji Rumberpon
Sangaji Rumansar
Sangaji Angaradifa
Sangaji Waropen
Wilayah-wilayah diatas, merupakan sebagian kecil wilaiyah yang dapat ditempuh oleh penduduk Kerajaan Tidore berada di bagian barat Irian dan sebagaian kecil utara Irian. Wilayah tanah besar beserta pulau-pulaunya oleh Kesultanan Tidore disebut dengan nama “Papo Ua” yang berarti tidak bergabung atau tidak bersatu, tidak bergandengan (not integrated). Maksudnya bahwa wilayah luas dan tanah besar ini tidak termasuk kedalam Kesultanan Tidore atau induk kesultanan Tidore. Karena luas wilayah penaklukannya kecil, maka Sultan Tidore hanya membagi tiga wilayah, yaitu Wilayah Kolano, Fat, atau Raja Ampat dari empat kerajaan masing-masing dikepalai oleh seorang raja di wilayah Papo Ua Gamsio (Papo Ua Sembilan negeri). Terdiri dari Sembilan daerah yang masing-masing dikepalapi oleh seorang Gimalaha atau seorang Sangaji. Wilayah Mafor Soa Raha atau Mafor Empat Soa yang terdiri dari empat Soa yang masing-masing dikepalai oleh seorang Sangaji.
Hubungan yang amat spesifik daerah Irian dengan daerah lainnya di Indonesia adalah dengan Maluku., khususnya Ternate dan Tidore. Disamping faktor geografis yang dekat serta faktor ekonomis (perda gangan) , juga karena fakta bahwa pada masa itu Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore merupakan kesultanan yang kuat dan disegani serta amat besar pengaruhnya di kawasan Indonesia Timur. Dibawah kepemimpinan Sultan Khairun dan Sultan Baabullah, pengaruh Kesultanan Tidore pada sekitar tahun 1580 telah sampai ke daerah yang batasnya Mindano sebelah utara,daereah Sumbawa sebelah selatan ,daerah Sulawesi sebalah barat dan pulau Irian sebelah timur.
Kesultanan ini tetap efektif kekuasaannya di Irian sampai menjelang berlangsungnya proklamasi kemerdekaan Indonesia .Hubungan spesifik ini terus berlanjut sampai masa TRIKORA, saat seluruh Bangsa Indonesia berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi Irian Jaya ini.Kota Soasiu di Tidore menjadi Ibukota Propinsi Perjuangan Irian Barat dan Pejabat Gubernur Irian barat saat itu adalah Sultan Zainal Abidin Syah dari Kesultanan Tidore. Beberapa catatan yang mengindikasikan bahwa Kesultanan Tidore maupun Ternate dan Kesultanan Islam lainnya di Maluku sangat erat hubungannya dengan daerah Irian antara lain dapat dilihat dari sejumlah informasi berikut :
Dalam bukunya “The Preaching of Islam “ , Thomas W.Arnold mencatat bahwa sejak tahun 1520 Kerajaan Islam Bacan di Maluku telah menguasai daerah Waigeo, Misool,Waigama,dan Salawati daerah-daerah yang semuanya merupakan bagian dari daerah Sorong sekarang.
Demikan pula berdasarkan cerita Rakyat dan informasi dari Tidore didapatkan keterangan bahwa sejak abad XV daerah Biak telah menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore.Sultan mengangkat pejabat pejabat didaerah bersangkutan dan diberi gelar jabatan,antara lain: Kapitan, Sangaji, Korano, Dimara, Mayor dan sebagainya. Gelar jabatan tersebut sekarang menjadi nama keluarga ( fam) di daerah tersebut. Salah seorang tokoh dari Biak bernama Gurabesi diangkat sebagai pejabat /panglima di Pusat Kesultanan, bahkan menjadi menantu Sultan. Tokoh inilah yang kemudian melahirkan penguasa-penguasa Kerajaan di Kepulauan Raja Empat.
Kantor Wilayah Dep. Agama Prop. Irian Jaya dalam buku (stensil) berjudul: “Departemen Agama dalam kata dan angka.” 1985 mengutip pernyataan W.C. Klein dalam “Nieuw Guinea“ yang menyebutkan bahwa :” pada tahun 1596 Pemimpin-Pemimpin Irian mengunjungi Kerajaan Bacan,dan dari kunjungan tersebut terbentuk lah Kerajaan-Kerajaan Islam”. Kekuasaan Kesultanan Tidore atas Irian juga diakui syah oleh pihak Belanda.Terkadang armada Kesultanan Tidore melakukan patroli ke daerah Irian. Berasarkan informasi yang dapat dipercaya,sejumlah informasi dapat dicatat antara lain:
a. Mulai abad ke-15 para pedagang Cina bekerja di Teluk Cende rawasih dan Teluk Wandamen.Pada waktu yang sama, Sultan Tidore mengirim orang-orangnya untuk menagih pajak.
b. Kekuasaan Kesultanan Tidore dan Kesultanan Ternate atas Irian Jaya diakui pula oleh Penguasa Inggris yang pada tahun 1814 s/d 1818 menjajah dan menguasai seluruh kepulauan Indonesia
c. Pada tahun 1849 Pangeran Amir sebagai Wakil Sultan Tidore menyertai suatu kesatuan ekspedisi Belanda untuk menempatkan tanda batas milik Belanda di daerah Doreri. Di pulau Ron , pulau Ansus di Selatan Yapen.
d. Pada tahun 1880 Pangeran Ali sebagai Wakil Sultan Tidore pergi megunjungi daerah pantai selatan Irian.Mula-mula ia mengunjungi Tanjung Sele, ujung terbarat Pulau Irian, kemudian ke Ati-ati, Kowiai, Kapiai dan juga daerah Merkusoord, bekas Benteng de Bus.
e. Tahun 1858 Pangeran Amir mengunjungi Humbolt-Bay ( teluk Yos Sudarso sekarang ) untuk berdagang. Tetapi karena berselisih paham dengan penduduk setempat maka beliau kembali ke Tidore, Pengaruh Sultan Tidore telah tersebar luas di Manokwari,Teluk Cenderawasih dan daerah sepanjang pesisir Utara.
f. Di daerah Fakfak terdapat bentuk kekuasaan yang disebut “ Raja-raja “ atau “ Petuanan ” , yang mendapat pengakuan dari Sultan Tidore. Sampai sekarang kekuasaan “ para Raja” di Fakfak masih berjalan , dan merupakan kekuasaan adat yang efektif, dipelihara dan dihormati secara turun temurun.Sebagai bukti bahwa Sultan Tidore mengangkat dan mengakui kekuasaan para penguasa Petuanan tersebut misalnya ditemukannya sebuah surat pengangkatan seorang Kepala wilayah dengan jabatan ‘ Kapitan “ di daerah Ugar, distrik Sekar, bertanggal 5 Nopember 1929.
Sebelum Tidore menguasai wilayah-wilayah tersebut diatas, kerajaan Waigama dan Misool menjadi bagian kekuasaan kesultanan Bacan yang dipimpin oleh adik Sultan Bacan yang bernama Kaicil Jelman pada tahun 1512 merupakan penguasa Islam pertama di Irian. Sedangkan wilayah lainnya diperebutkan oleh Kerajaan Ternate dan Tidore melalui suatu peperangan, akhirnya Ternate menguasai Halmahera bagian barat dan Salawati, sedangkan Tidore menguasai Seram bagian timur dan sebagian Irian bagian barat. Daerah-daerah seperti Waigama dan Misool yang dikuasai oleh kerajaan Bacan. Pada abad XVII Tidore berhasil mengalahkan Bacan dan kedua daerah tersebut dikuasai oleh Kerajaan Tidore. Dengan demikian, maka Tidore secara utuh menguasai sebagian kecil dibagian barat Irian. Sehingga tidak mengherankan ketika awal kedatangan bangsa penjajah, Kesultanan Tidore menjadi Pengaruh besar dalam berbagai perundingan terutama mengenai Irian.
Semula kekuasaan Tidore hanya sampai disekitar Kepulauan Raja Ampat tetapi berhasil meluas sampai kearah timur dari Raja Ampat. Hal ini dimulai ketika Armada Honggi yang dikerahkan dari Tidore untuk memungut pajak dari penduduk pantai utara Irian. Dengan ini dapat diduga bahwa pada zaman sebelumnya mempunyai hubungan yang erat antara orang Maluku dengan orang Biak. Menurut F.C Kamma bahwa apabila seorang Biak datang membayar upeti, maka mereka menghadiahi sebuah gelar. Gelar yang dapat dihubungkan dengan gelar Kerajaan Tidore, seperti Raja atau Sangaji yang disebut (Kepala Distrik), Dimara (Gimalaha berarti Kepala kampung) dan Korano. Gelar ini ada hubungannya dengan pembagian daerah Biak menjadi Distrik-distrik oleh Tidore. Di Tidore, sebuah ibukota terdiri dari 9 atau 4 kampung. Itulah sebabnya barangkali daerah Biak-Numfor juga dibagi menjadi 9 Distrik 4 kampung. Hal ini sama dengan keempat Keret di Numfor yang utama.
Dengan adanya hubungan tersebut, maka peradaban hidup dalam unsur budaya jasmani orang Biak. Setidak-tidaknya terpengaruh oleh peradaban hidup orang Maluku, Halmahera, Raja Ampat misalnya Ubu dan pandai Besi, Perahu Lesung Berpapan, Parahu Lesung untuk pertahanan semang-semang perisai tari, benda-benda keramat dan tembaga.
Dengan demikian, pengaruh kerajaan Tidore hanya sekitar kepulauan Raja Ampat dan pulau Biak sehingga tanah besar Irian hampir tidak berani dikuasai oleh Kerajaan Tidore. Hal ini mungkin disebabkan karena wilayahnya yang begitu luas atau alat-alat perlengakapan untuk penguasaannya belum kuat, sehingga ia menyebut pulau besar itu dengan memberi nama Papo Ua yang artinya tidak bersatu (not integrated) dengan kerajaannya. Namun kerajaan Tidore pernah memegang peranan yang penting dalam membuat perjanjian dengan bangsa barat. Tidore mengklaim Irian sebagai bagian dari kerajaannya.
Karena begitu keras dan kuatnya kerajaan-kerajaan dipesisir pantai maupun suku-suku yang mendiami daratan pulau besar, maka praktis tak ada satupun kekuatan asing menduduki pulau itu dan secara tehnis administratif menguasainya. Kesultanan Tidore pun tidak pernah berkuasa secara defenitif. Ia hanya secara periodik melayani pesisir pantai tanah ini untuk mengayau dan mengumpulkan upeti. Tidore dalam banyak hal lebih banyak berhutang budi kepada penduduk Papua. Sebab ia biasanya meminta bantuan rakyat Papua untuk memerangi musuh-musuhnya (musuh-musuh Tidore, seperti Kesultanan Ternate, Jailolo dan Bacan, V.O.C maupun portugis) satu-satunya kekuasaan yang pernah secara defenitif memerintah dan membangun Papua menuju civilisasi modern adalah pemerintah Belanda yang memulainya di Manokwari pada tanggal 9 November 1898, dan Fakfak pada tanggal 16 November 1898. Berdasarkan klaim seperti ini, maka klaim kekuasaan historis Majapahit dan Tidore tak dapat dianggap sah. Tidorepun banyak melakukan misi-misi penyerangan, pengayauan, dan pembelian budak ke berbagai tempat di pesisir pantai selatan daerah Kepala Burung, maupun semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak (yang sekarang ini), dan daerah utara Kepala Burung hingga kedaerah teluk Wondama, dan pulau-pulau yapen Waropen, serta Biak-Numfor di teluk Cenderawasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: